Cerita Sebelumnya:
RETAKNYA SANG JINGGA (Bagian 3)
Tak terasa air mata Arum menetes di pipi cantiknya. Ucapan syukur yang amat terdalam meluncur dari bibir indah Arum, saat ia pun bertemu dengan sosok Kusuma, seorang Direktur Perusahaan terkenal di kota metropolis, yang tak lain adalah seorang direktur perusahaan Alex . Perkenalan itu pun berlanjut dengan menjalin hubungan kasih. Kusuma yang memiliki wajah tampan itu terpikat dengan kelembutan dan kecantikan Arum. Arum pun juga merasakan hal yang sama ia terpesona oleh sosok yang bijaksana dan dengan ketulusan hati mencintai Arum apa adanya.” Arumku sayang, ijinkan aku untuk menikahimu......,” ucap Kusuma dengan lembut.” Benarkah, Mas. Aku pasti bahagia sekali. Aku benar-benar tidak percaya. Kenapa Mas memilih aku? Apakah sudah mas pikirkan? Aku hanya wanita biasa, Mas?” tanya Arum.” Aku sudah memikirkannya, sayang. Aku serius! Aku ingin menjadikanmu sebagai pendamping hidupku...,giman kamu mau kan?” jelas Alex.” makasih ya, Mas.Aku pasti mau menjadi teman hidupmu untuk selamanya..,” jawab Arum sambil tersenyum. Tak terasa air matanya menetas lembut di pipi halus Arum. Ia begitu terharu denagn ketulusan hati Kusuma yang begitu menghargainya sebagai seorang wanita dan kekasih yang suci, tidak seperti apa yang telah Alex lakukan kepada Arum.
Alex mencoba untuk mendapatkan hati Arum kembali tetapi Arum tidak mau menerima Alex. Ia telah menemukan seseorang yang sangat ia sayangi. Berkali-kali Alex memaksa Arum untuk menerima cintanya, tapi keputusan hati Arum sudah bulat. Ia sudah menjatuhkan pilihan pada sosok Kusuma yang selalu bisa sama-sama mengerti keadaan masing-masing.” Arum, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi untuk mengayuh cinta dalam samudera hatimu! Aku berjanji aku akan mengubah sikapku,” pinta Alex.” Maaf, Mas Alex, aku tidak bisa. Aku terlalu sakit dan terlalu kecewa dengan semua perlakuan itu. Cukup sudah, lebih baik sekarang kita temenan saja,” jelas Arum. Berbagai kata dan rayuian telah Alex ucapkan kepada Arum, tapi keputusan Arum sudah bulat. Alex akhirnya menyerah, meskipun sebenarnya dalam hati kecil Alex masih yakin ia bisa mendapatkan Arum.” Aku pasti bisa mendapatkan kamu, Arum! Tunggu aja...mungkin emang bukan sekarang, tapi nanti...gadis seperti kamu!hah...kecil,” batin Alex.” Aku pasti akan mendapatkan warna jingga itu, warna yang selam ini aku suka, warna kebahagiaan, kekayaan....hah...Aku pasti bisa! Lihat aja nanti!” batin Alex saat ia mengendarai mobil mewahnya pulang dari kantor.
Beberapa bulan kemudian, perusahaan yang Kusuma pimpin mengalami suatu goncangan perekonomian. Uang kas perusahaan yang masuk lebih sedikit dibanding dengan pengeluaran. Ditambah lagi kualitas kerja beberapa karyawan yang kurang optimal membuat kelangsungan hidup perusahaan itu semakin terancam. Pada saat itulah Kusuma melakukan” pembersihan” perusahaan dan pengawasan ketat mengenai tugas-tugas karyawan yang mulai lalai. Hal ini diperkirakan ada sejumlah orang dalam perusaahaan itu yang bermain curang alias korupsi. Bahkan diperkirakan ada pihak yang memprovokatori kurang maksimalnya kerja para karywan perusahaan itu. Dan ternyata benar, Bapak Andrean, kakak Alex, adalah dalang dari semua ini. Setelah diadakan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata Alex juga terlibat dalam tindakan korupsi itu. Tak lama kemudian, pihak-pihak terkait beserta pihak kepolisian menyita semua harta benda, termasuk seisi rumah dan mobil Pak Andrean maupun harta benda milik Alex untuk melunasi hutang-hutang perusahaan yang telah sekian bulan menumpuk. Bahkan Alex dan Pak Andrean dinyatakan dipecat dari perusahaan Kusuma.
Keadaan seperti itu membuat hati Alex sangat terpukul. Keberadaannya sekarang tidak pernah dipedulikan orang. Alex tidak seperti Alex yang dulu lagi. Saat Alex masih menikmati manisnya hidup, tak pernah sekalipun ia peduli dengan pengemis atau anak-anak jalanan. Tak sedikitpun terlintas dalam pikirannya untuk sedikit memberikan harta yang telah Tuhan titipkan untuknya. Tapi keadaan sekarang telah berubah,dengan baju seadanya Alex berjalan menyusuri jalan-jalan kehidupan. Jalan kehidupan yang telah ia pilih sendiri dengan cara yang tidak halal. Penyesalan menjalari relung hati Alex. Kembali terlintas dalam bayangan Alex berbagai penghinaan harga diri yang telah Alex lakukan kepada Arum.
Hari Minggu itu, Jakarta sebagai kota metropolitan begitu bersahabat. Suasana pagi itu sangat cerah. Dari kejauhan saat Alex berjalan kembali mengadu nasib di kota itu, terlihat olehnya, Hotel Permata berbintang lima, dipenuhi oleh wartawan dan sejumlah orang penting lainnya. Mobil-mobil mewah dengan hiasan bunga-bunga melati yang indah menghias kaca mobil itu. Warna-warna yang glamour menambah keindahan seni penata artistiknya.
Tiba-tiba tanpa sengaja pandangan mata Alex tertuju pada pernak-pernik ucapan selamat yang di tata sangat indah diletakkan di luar gedung hotel itu. Alex sangat terkejut saat ia membaca nama tulisan yang terpampang dalam ucapan itu” Selamat Menempuh Hidup Baru kepada Pasangan Pengantin-Kusuma dan Arum-Semoga Bahagia”.” Ah, itu pasti bukan Arum yang aku kenal, tidak mungkin ia bisa menjadi suami Kusuma, orang penting dalam perusahaan itu,” gumam Alex. Tetapi kenyatannya Alex benar-benar melihat dari dalam gedung hotel itu, kedua mempelai keluar dengan busana Jawa yang indah. Tampak Arum menggandeng mesra tangan Kusuma. Kedua mempelai itu begitu serasi. Keanggunan dan kecantikan Arum terpancar dari hati dan wajah lembutnya. Tampak kedua orang tua mempelai, sanak saudara, dan sahabat keduanya ikut memeriahkan acara itu. Bahkan wartawan meliput kejadian penting masa-masa indah mereka. Melihat kejadian itu, Alex hanya terdiam kaku. Dia benar-benar tidak percaya dengan semua kejadian itu. Arum, dulu wanita yang sering ia hina dan ia cemooh, bahkan dulu dengan mudahnya Alex menginjak-injak harga diri Arum, kini telah berubah. Warna jingga yang telah Alex impikan, warna keceriaan, kebahagiaan, dan kesuksesan, telah retak dan hancur, sehancur perasaannya sekarang. Alex hanya menatap kosong keramaian kota yang begitu keras itu. Alex hanya bisa diam.”Jinggaku hilang.......,”gumam Alex.
By: Wilujeng Arie A.
Label: Cerpen, Retaknya Sang Jingga
Cerita Sebelumnya:
RETAKNYA SANG JINGGA (Bagian 2)
Sementara di tempat terpisah, Arum juga belum bisa memejamkan matanya. Gelap telah menyelimuti wajah bumi dan sang waktu pun terus berjalan. Tapi malam ini Arum benar-benar tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya masih tertuju pada sosok lelaki yang tadi pagi ia temui. Sekilas terlintas bayangan masa lalu yang masih membekas di hati Arum. Pengkhianatan cinta dan penghinaan yang Alex lakukanpada Arum, bahkan pada keluarga Arum, benar-benar membuat harga diri Arum diinjak-injak. Begitu mesranya Alex memberikan alasan-alasan gombal kepada Arum.” Say, sory ya, aku nggak bisa nemuin kamu hari ini, aku masih sibuk say, masih ada kepentingan,” ucap Alex kepada Arum saat mereka masih berpacaran. Kata-kata itu merupakan senjata ampuh bagi Alex setiap dia mulai melakukan sesuatu yang menyimpan dari keadaan yang sebenarnya.” Oya, say, nggak apa-apa kok, aku bisa ngerti, tapi lain kali kamu bisa kan ngluangin waktu buat aku. Aku pengen ngobrol-ngobrol sama kamu,” jawab Arum. Kalimat itupun berkali-kali diucapkan dari bibir mungil Arum, juga dari pesan-pesan singkat dalam inbox ponsel Arum. Arum yang dulu begitu polos, selalu berpositive thinking, bahkan ia selalu mencoba memahami apa keinginan Alex. Arum sadar Alex adalah anak bungsu, sedangkan Arum adalah anak sulung. Jadi setidaknya anak sulung lebih bisa mengalah dan memahami si bungsu, meski umur merekaterpaut 4 tahun, tapi kedewasaan Arum lebih muncul dibandingkan Alex.
Tak lama kemudian Arum mendengan kabar dari teman dekat Alex, kalau ternyata Alex menduakan cinta Arum. Awalnya berita itu tidak pernah digubris oleh Arum, akan tetapi akhirnya Arum mulai merasakan hal-hal janggal dan perubahan sikap Alex. Kelakuan Alex mulai menunjukkan keresahan dan kemarahan Arum. Bahkan dalam satu bulan mereka hanya bertemu dua kali, padahal jarak antara tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh. Saat itu alex menginjak semester akhir jurusan Pertanian di suatu Universitas Negeri, sedangkan Arum masih semester awal jurusan Sastra Indonesia pada Universitas Negeri yang berbeda.
Pernah pada suatu ketikaArum diajak makan malam di sebuah rumah makan mewah. Di situlah awal dari penghinaan dan cemoohan itu ditujukkan pada Arum. Arum dipermalukan di depan teman-teman Alex. Menanggapi cemoohan itu Arum hanya bisa diam, ia masih bisa menahan emosinya. Perlakuan seperti itu tidak hanya dilakkan sekali oleh Alex. Berkali-kali Alex melontarkan kata-kata ejekan halus kepada Arum entah itu tentang cara makannya, cara berjalan, atau bahkan penghinaan secara terang-terangan. Sebenarnya Arum sudah tidak tahan lagi dengan sikap Alex, tapi dia masih mencoba untuk bersabar. Saat Alex mengajak Arum jalan-jalan naik mobil Alex, saat itulah ejekan halus itu dilontarkan.” Say, kamu kenapa ngantuk? Keenakan naik mobil ini ya? Makanya, suruh ayahmu beli mobil sendiri, ntar kalo gak ada yang bisa nyetir, biar aku yang nyopirin. Eh say, kalo mau tidur tukursinya direbahkan dulu, gak bisa ya? Kamu norak banget sih!! Gitu aja gak bisa! Eh say, kamu enak ya gak kepanasan, gak ngluarin uang,” ejek Alex.” Sekarang lebih baik turunkan aku di sini!! Aku bisa kok sampai rumah tanpa mobiil ini pun,” ucap Arum.” Jangan gitu dong! Ntar gak enak sama ayah dan ibu kamu, bener gak??Hehe...Gitu aja marah,” ledek Alex.
Bahkan ejekan lain telah Alex lontarkan kepada Arum.” Say, kamu ngambil jurusan kayak gitu tu mana bisa jamin masa depan! Paling juga hanya dapat gaji kecil nggak cukup buat hidup, sama seperti jejak orang tua kamu!” ucap Alex.” Heh, say, kamu tu kalo ngomong yang bener ya. Kamu boleh hina aku, ngrendahin aku, tapi tolong, jangan kamu bawa-bawa orang tuaku!! Semua ini hanya Tuhan yang tahu. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Iya, sih aku tahu kamu tidak sederajat denganku. Kamu bisa nggak sih berhenti hina aku? Say, aku pingin mulai sekarang kita temenan aja!” tegas Arum.” Tidak bisa say, aku gak bisa! Aku gak bisa jauh dari kamu. Kamu terlalu manis untuk dilepaskan begitu aja. Aku masih sayang sama kamu,” bantah Alex.
Begitu sabarnya Arum menjalani hubungan dengan Alex. Bahkan ayah dan ibu Arum pun sama sekali tidak pernah berprasangka buruk kepada Alex. Mereka selalu bersikap ramah saat Alex berkunjung ke rumah Arum. Tetapi pernah pada suatu ketika, saat Arum dan keluarganya benar-benar dalam keadaan terjepit, sedikitpun Alex tidak peka dengan masalah Arum. Padahal dulu, Arum juga sering membantu Alex mengejakan tugas-tugas kuliahnya, menemaninya saat ada masalah, bahkan merawatnya saat Alex jatuh sakit dan jauh dari kedua orang tuanya.” Alex yang dulu sangat berbeda dengan Alex sekarang. Dulu ia begitu dewasa, pengertian dan selalu menjaga sikap,” gumam Arum dalam hati. Jalinan cinta mereka pun putus saat Arum benar-benar melihat sendiri bahwa ternyata Alex memang menduakan cinta Arum. Perasaan sakit tak terhingga pun dirasakan Arum, tapi Arum masih mencoba untuk tetap tegar. Setidaknya, Arum merasa bersyukur Tuhan sudah menunjukkan siapa dia yang sebenarnya sebelum hubungan itu jauh di bawa ke jenjang pernikahan. Meski sebenarnya Alex tidak bisa menerima keputusan Arum karena memang sebenarnya di hati terdalam Alex belum bisa melepaskan Arum, tapi keputusan Arum sudah bulat.
Setelah kejadian itu Alex masih minta kepada Arum untuk tetap masih bisa menjalin hubungan komunikasi, misalnya dalam bentuk sms. Pesan-pesan singkat itu masih sering diterima Arum. Kata-kata Alex tak jauh beda dari kata-kata yang masih digunakan saat mereka masih berpacaran.” Say, aku kangen...banget sama kamu..,” tulis Alex dalam inbox-inbox Arum. Permintaan Alex itu pun dipenuhi Arum, tapi lama-lama kontak komunikasi mereka terputus. Mereka pun semakin jauh. Saat Alex telah diwisuda dari kuliah Pertaniannya, saat itupun ia bekerja di Jakarta. Bekerja di sebuah kantor perusahaan yang cukup terkenal di kota metropolis itu, sedangkan Arum masih kuliah. Arum begitu rajin menjalani hari-hari kuliahnya, meski tak ada Alex di sampingnya lagi, hingga ia menyandang predikat terbaik di kelasnya. Keramahan Arum, kebaikan dan kecantikannya menambah Arum lebih banyak memiliki teman. Prestasi yang cemerlang tak bisa dielak lagi oleh Arum. Setelah lulus dari kuliah Sastra Indonesia, Arum pun mengikuti pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang kebetulan ia jalani saat ia berlibur di rumah saudaranya di Jakarta. Arum pun diterima menjadi pegawai negeri. Ia mengajar di sebuah SMP favorit di kota Jakarta. Arum mengajar dengan sangat profesional dan menerapkan sistem-sistem pengajaran yang menarik dan bermutu bagi siswa-siswanya. Tak segan-segan Arum juga menjadi salah satu guru curhat bagi siswa-siswa SMP itu.” Terima kasih, Bu Arum. Saya jadi lebih lega setelah Bu Arum memberikan nasihat-nasihat,” ucap salah seorang siswa Arum saat dia selesai curhat. Arum pun mengasah kemampuan mengajarnya dengan menggabungkan hobi bermain drama dan seni akting. Arum mendaftarkan diri ke Sanggar Melati tempat Arum mengajar bermain drama sekarang. Kesuksesan Arum pun dapat ia raih. Ia mendapat gaji yang cukup besar, sebagian uangnya ia kirimkan kepada orang tua Arum yang tinggal di kota kecil itu, dan sebagian uangnya ditabung. Ucapan syukur pun menghias di bibir orang tua Arum. Berbagai kenangan masa lalu menghiasi pikiran Arum hingga Arum pun terbuai dalam tidur malamnya.
Label: Cerpen, Retaknya Sang Jingga
RETAKNYA SANG JINGGA (Bagian 1)
“Selamat Pagi, Mbak Arum!” sapa seorang wanita di seberang jalan. Wanita itu seorang ibu muda yang berjalan dengan anak gadisnya yang kira-kira duduk di bangku kelas lima SD.” Met Pagi juga, Bu!” jawab Arum. Mendengar nama Arum disapa, tiba-tiba di seberang jalan, seorang pria muda membuka kaca mobil Kijang Inovanya. Lalu ia membuka kacamata hitam yang menutupi bola matanya. Ia terus saja memperhatikan Arum yang berjalan ke arah sanggar teater itu.” Sanggar Teater Melati”, nama sanggar itu merupakan salah satu sanggar tempat anak-anak usia SD dan SMP mengembangkan bakat mereka dalam bermain drama.
Pria muda itu bernama Alex. Dia begitu heran melihat keberadaan Arum sekarang. Arum, wanita lembut dengan wajah cantik itu, memakai kerudung merah jambu. Tubuh mungil itu berjalan begitu mantap. Di bahu kanannya menjinjing tas kecil bermerk, senada dengan warna bajunya, sedangkan di tangan kirinya membawa buku-buku berukuran besar. Tanpa basa-basi lagi, Alex pun turun dari mobilnya, ia bergegas menghampiri Arum.” Arum! Kaukah itu??” teriak Alex. Arum pun tersentak kaget.” Mas Alex!!” balas Arum. Mereka pun saling berpandangan, tiba-tiba Arum mengelak dari Alex, sambil membalikkan tubuhnya, pergi setengah berlari.” Arum, tunggu Arum! Arum…!!” teriak Alex.” Ada apa lagi Mas Alex? Nggak nyangka ya, bisa ketemu kamu di sini?” tukas Arum.”Kamu beneran Arum, kan?? Kamu tambah cantik ya sekarang. Tapi…kok kamu ada di sini sih? Kamu ngapain datang ke sanggar ini? Atau jangan-jangan, kamu mau melamar pekerjaan di sini ya?” tanya Alex berturut-turut sambil memicingkan mata. Sambil tersenyum tenang, Arum pun menjawab,” Makasih. Perlu kamu tahu ya di sini aku udah bekerja. Aku ngajar drama anak-anak di sanggar ini, ya...sekalian cari kesibukan,” jawab Arum.”Kamu sendiri kenapa datang ke sini?” tanya Arum lagi.” O…gitu! Kalau aku, aku lagi ngantar keponakanku, kebetulan juga les drama di sin,” jawab Alex cengengesan sambil memainkan bola matanya.” Masih seperti yang dulu,” batin Arum.
“Udah dulu, ya, aku mau masuk!” tukas Arum.” Tunggu dulu, dong, aku masih pengen ngobrol ama kamu!!” sela Alex.” Maaf, aku keburu telat, lain kali saja” jawab Arum sambil bergegas pergi.” Tapi Ar…Arum! Tunggu dulu, Arum…!!” teriak Alex. Arum terus saja bergegas pergi meninggalkan Alex. Dalam hati, Arum benar-benar tidak menyangka bisa bertemu Alex. Tangan Arum dingin dan gemetar. Ia menyimpan sejuta kenangan bersama Alex. Tanpa disadari air mata menetes di pipi cantik Arum, tetapi dia berusaha tegar. Meski pikirannya kacau, tetapi Arum masih bisa menguasai dirinya. Dia mengajarkan drama dengan penuh penghayatan kepada anak-anak, meski sesekali bayangan Alex terlintas dalam pikiran Arum.
Sementara itu, sampai di kantor, Alex sudah terlambat. Ia bertemu dengan Direktur perusahaan itu, Kusuma, umurnya masih muda, masih seumuran dengan Alex, 28 tahun. Tidak ada sedikitpun kesombongan terpancar dari wajah tampan Kusuma, meski dalam usia muda, ia sudah menjadi seorang Direktur di sebuah perusahaan besar di kota metropolitan itu. Perilakunya sangat bijaksana.” Mas Alex, kenapa hari ini datang terlambat, padahal Anda harus menyiapkan data-data perusahaan untuk segera dipresentasikan dan untuk segera diurus?” tanya Kusuma.” Oh..Maaf, Pak Kusuma, tadi saya ada sedikit urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Iya, Pak data-data itu akan segera saya tangani,” jelas Alex.”O...begitu, ya sudah tidak apa-apa, tapi lain kali tolong anda lebih bisa memanfaatkan waktu dengan baik karena masalah di perusahaan ini tidak main-main. Sekarang silakan Anda bekerja,” jelas Kusuma.” Baik, Pak, akan segera saya laksanakan,” sambung Alex.
Sore harinya, setelah tiba di rumah, Alex langsung mandi dan istirahat di kamar. Kamar yang sudah setahun ia tempati. Rumah itu adalah rumah kakaknya. Kakak Alex telah berkeluarga dan terkenal sukses bekerja di Jakarta. Alex juga bekerja di kantor yang sama dengan kakaknya. Ia bisa lebih cepat bekerja karena ada pihak kakak yang membantu memasukkan dalam perusahaan tersebut. Malam itu, Alex tidak segera memejamkan mata. Ia masih saja mengingat pertemuannya dengan Arum. Alex benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Arum di kota Jakarta ini. Apalagi dengan keadaan Arum sekarang yang jauh lebih cantik dari sebelumnya dan berpenampilan lebih menarik dibanding pada saat mereka masih tinggal di kota kecil itu, kota yang membawa sejuta kenangan. Pikiran Alex kembali menerawang ke masa lalu mereka.” Ah, Arum, aku benar-benar tidak percaya kamu ada di kota metropolitan seperti ini. Mana mungkin seorang wanita biasa seperti Arum bisa dengan mudah bekerja di Jakarta, mapan lagi!!” batin Alex.” Ah, tau deh! Tapi kayaknya....kok aku jadi tertarik ya dengan gadis manis itu. Aku harus bisa mendapatkannya. Gadis polos seperti dia?! Kecil!! Tidak ada apa-apanya,” gumam Alex. Alex tersenyum sendiri.” Ia pasti tidak bisa menolak tawaran cinta dari seorang pangeran sepertiku. Udah kaya! Cakep lagi...Apa sih yang tidak bisa aku dapatkan...”ucap Alex sambil tersenyum sendiri. Sambil terus berangan-angan, Alex pun terlelap dalam tidur dengan balutan selimut sutera dan tempat tidur yang selalu bersih dan nyamanserta ruangan yang selalu dibersihkan oleh pembantu dalam rumah itu.
Label: Cerpen, Retaknya Sang Jingga
Cerita Sebelumnya:
JAM KUNO ISTRIKU (Bagian 2)
Tak seperti biasanya, keesokan harinya pintu depan rumah keluarga Darto terbuka lebar-lebar. Bukan karena ada syukuran atau acara lain. Pagi ini, Nia bermaksud membersihkan kamarnya yang sudah berdebu. Saat membuka almari pakaian, Nia melihat tumpukan baju-bajunya waktu ia masih kecil dulu. Segera diangkatnya baju-baju itu dan dipindahkannya ke ruang tamu.
“Pak, coba lihat. Ini kan baju-baju Nia waktu masih kecil. Lucu-lucu ya, Pak?” Nia memperlihatkan baju-baju itu kepada bapaknya. Darto, yang semula sedang duduk di kursi sambil memandangi jam kuno segera beranjak mendekati anak perempuannya. Mereka melihat satu persatu baju-baju itu dan tertawa bersama mengingat saat Nia masih kecil.
“Nduk, ini kan baju yang kamu pakai waktu pertama kali masuk TK? Waktu itu Bapak dan Ibu mengantarkan kamu sampai ke sekolah. Tapi kamu nangis terus minta pulang, to? Ha... ha...”. Darto menunjukkan sepotong baju berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga mawar kecil.
Mereka kembali tertawa. Dalam hati, Nia memuji daya ingat bapaknya yang sangat kuat. Sudah hampir limabelas tahun peristiwa itu terjadi, tapi bapaknya masih ingat dengan jelas.
“Kalau yang ini... Nah, ini Nia pake waktu Nia jatuh dari sepeda dan nyemplung ke kolam itu, kan Pak? Ha... ha... Ini bekas sobeknya masih ada. Dulu, Nia suka pake baju ini, Pak. Soalnya, warnanya kuning, bagus banget. Bapak sama Ibu yang beliin. Kalau nggak salah, Bapak sama Ibuk belinya di Jogja...” , Nia tak meneruskan kata-katanya. Dia tertegun melihat bapaknya memegang baju itu sambil menatap lurus-lurus ke arah jam kuno yang menempel dengan anggunnya di dinding ruang itu.
“Pak, kenapa?” tanyanya lirih.
Tapi Darto tak lagi mendengar kata-kata anaknya. Dia berjalan mendekati jam kuno itu dengan sepotong baju tadi digenggamnya erat-erat. Ingatannya berganti-ganti seperti adegan dalam film yang dipercepat. Dia ingat bagaimana saat-saat dia pergi ke Jogja bersama istrinya. Saat itu, mereka berdua berjalan-jalan di Malioboro setelah menghadiri resepsi pernikahan teman istrinya. Saat itulah mereka membeli baju itu untuk Nia. Setelah itu... setelah itu...
“Ah, ya! Pantas saja... jam ini..” Darto setengah berteriak.
“Pak! Ada apa...”Nia masih keheranan melihat tingkah laku bapaknya.
Darto diam. Ia memusatkan seluruh tenaganya untuk mengingat peristiwa itu. Ia dan istrinya melihat jam kuno itu dipajang di sebuah toko barang-barang antik. Istrinya ingin membelinya... dan merekapun membeli jam itu. Istrinya senang sekali. Karena jam itu besar, mereka menyuruh seorang tukang becak untuk mengantarkan mereka ke terminal bus. Tapi.. ada sesuatu... di becak, istrinya mengatakan sesuatu. Tapi, apa? Darto tak sanggup lagi mengingat.
Ia mendekati jam kuno itu. Tangannya yang keriput karena dimakan usia menjangkau bagian atas jam yang berukir. Tangan itu menelusuri setiap garis dan ukiran lapisan kayu jati yang menjadi kerangka jam itu. Tiba-tiba jemarinya bergetar. Ia ingat perkataan istrinya.
“Pak, kalau kita tua nanti, dan aku meninggal lebih dulu, aku ingin menjadi benda apa saja yang selalu menemanimu sampai kau menyusulku. Mungkin aku bisa menjadi jam ini...” , katanya sambil mendekap ujung atas jam kuno itu.
“Hush, kamu ini. Ndak boleh ngomong gitu!” potong Darto. Istrinya tertawa.
Air mata besar-besar jatuh membasahi pipi Darto. Terus menetesi baju yang digenggam di tangan kirinya. Nia sesenggukan sambil memeluk lengan bapaknya. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan bapaknya. Mungkin bapak ingat ibu, pikirnya.
Sementara itu, Darto terus memandang jarum-jarum jam kuno itu. Benda-benda panjang runcing itu bergerak-gerak, berputar dengan tenangnya. Tapi hati Darto tidak setenang itu. Dia sedang berpikir, akankah diceritakannya hal ini kepada Nia???
By: Febilya Susanti
Label: Cerpen, Jam Kuno Istriku
JAM KUNO ISTRIKU (Bagian 1)
Darto beranjak dari kursi yang sedari tadi didudukinya. Kepalanya serasa pusing. Mungkin karena penyakit hipertensi yang sudah bertahun-tahun mengendap di tubuhnya. Ia berjalan ke teras. Sore ini khusus ia luangkan waktu untuk menunggu kedatangan anaknya, Nia. Pagi tadi, Nia menelepon dan menyampaikan kabar gembira. Kuliahnya akan libur selama beberapa hari, sehingga dia bisa pulang menengok bapaknya.
Darto merapatkan tubuhnya ke sisi kursi rotan. Udara memang sedang dingin-dinginnya. Jika istrinya masih hidup, saat-saat sore yang dingin seperti ini, dia pasti membuat pisang goreng kesukaan Darto. Dengan ditemani secangkir teh, mereka berdua akan larut dalam canda tawa mengingat masa muda yang penuh kenangan. Ya, Marni memang sudah berpulang enam bulan yang lalu. Darto masih ingat saat itu. Tanpa menderita sakit sedikitpun, Marni meninggal. Padahal, pada malam sebelum tidur, mereka masih membicarakan rencana Nia untuk mengambil kuliah di luar kota.
“Bu, aku tidak melarang Nia meneruskan cita-citanya untuk menjadi dokter anak. Tapi, di kota kita ini kan juga ada universitas yang mempunyai jurusan kedokteran. Maksudku, kalau mau, Nia bisa kuliah di sini sekaligus menemani masa tua kita. Ingat, Bu, anak kita hanya satu”.
“Iya, Pak, aku tahu maksudmu. Tapi bagaimana dengan beasiswa yang diterimanya? Nia senang sekali waktu mengetahui dia diterima dengan beasiswa di sana”, Marni mengingatkan.
Perbincangan itupun berakhir dengan keputusan merelakan Nia melanjutkan kuliahnya di luar kota. Jam beker berbentuk beruang yang duduk di atas laci di sisi tempat tidur mereka menunjukkan pukul 23.00 ketika Darto mengajak istrinya tidur. Esok paginya, saat menjelang subuh, Darto bangun dan menyadari bahwa istrinya telah meninggal. Sesal hatinya karena istrinya tak memberi isyarat apapun tentang kepergiannya. Namun, hati kecilnya merasa terhibur sebab istrinya meninggal dengan tenang.
“Assalamu’alaikum...”.
Darto kaget bukan kepalang, tak terasa ia tertidur di kursi rotan tempatnya duduk tadi. Di sampingnya, seraut wajah cantik berkerudung memandangnya iba.
“Wa’alaikum salam”, jawabnya lirih.
“Jalannya macet, Nduk?”, tanyanya ketika menangkap rasa lelah pada wajah cantik itu.
“Iya, Pak. Padahal Nia berangkat pagi sekali. Oh, iya. Ini ada oleh-oleh buat Bapak. Bapak belum dhahar kan?”
Nia menuntun bapaknya masuk ke dalam rumah. Darto tersenyum mendengar Nia mengucapkan kata dhahar, yang dalam bahasa Jawa halus berarti makan. Kemudian, ayah dan anak itu memutuskan untuk shalat dulu karena waktu shalat magrib hampir tiba.
Teng... teng... teng... teng!
“Pak, kenapa jam ini? Apa sudah rusak? Ini kan masih jam setengah tujuh?” tanya Nia bertubi-tubi. Ia berdiri di depan jam dinding yang besar dan kuno di ruang tamu. Di wajahnya tersirat rasa heran.
“Itulah, Nduk. Sebenarnya Bapak ingin menceritakan hal ini. Ayo, kita duduk dulu”, Darto mengajak Nia duduk di kursi, menghadap meja makan. Bau sedap soto ayam yang dibawa Nia tadi menyebar ke seluruh ruang makan.
“Nduk, Bapak juga ndak tahu. Sejak sebulan yang lalu, jam ini selalu berbunyi meskipun bukan waktunya. Mungkin memang sudah rusak. Tapi kalau dipikir-pikir, jam ini selalu berbunyi pada waktu-waktu sholat dan makan tiba. Kalau waktu shalat, dia bunyi lima kali. Tapi, kalau waktunya Bapak makan, dia bunyi empat kali. Aneh, to Nduk? Pakdhemu bilang sebaiknya dibawa ke tukang reparasi saja. Tapi Bapak ndak mau. Lha wong ibumu saja pernah bilang ndak akan jual jam ini, walaupun sudah rusak. Kamu eling to ibumu pernah marah waktu jam ini mau dipindah ke ruang belakang?” katanya panjang lebar.
“Iya, Pak. Ibu sayang sekali sama jam ini. Ya sudah, Pak, nggak usah dijual. Nia juga suka ingat ibu waktu melihat jam ini”. Nia menuang air putih ke dalam gelas bapaknya. Saat melihat bapaknya makan dengan lahap, trenyuh hati Nia membayangkan setiap hari bapaknya tinggal sendiri di rumah besar itu.
Dua bulan setelah ibunya meninggal, Nia kost di luar kota tempatnya kuliah. Tinggallah bapaknya seorang diri di rumah itu. Setiap hari, ada saja kerabat dekat yang datang menjenguknya. Kakak laki-laki Marni, Marji, yang paling sering datang. Nia biasa memangginya Pakdhe. Pakdhe sering meminta bapaknya untuk tinggal di rumahnya yang hanya berjarak lima rumah dari rumah bapaknya. Masih ada satu kamar kosong yang bisa ditempati. Tapi, bapaknya tidak mau. Katanya, walaupun ibunya sudah meninggal, tapi serasa dia masih selalu menemaninya di rumah itu.
“Lho, kok malah bengong, to Nduk? Ayo, cepet makan. Sebentar lagi jam itu pasti bunyi lima kali. Itu tandanya...”
Teng... teng... teng... teng... teng!
Belum selesai kalimat yang diucapkan Darto, jam itu sudah berbunyi lima kali. Persis seperti yang dikatakannya.
“Shalat isya kan, Pak? Nah, itu di mesjid juga sudah adzan”, sambung Nia.
“Pak, ngomong-ngomong Nia kok belum ketemu sama Bu Minah?” tanya Nia.
“Bu Minah pergi ke rumah anaknya, jadi makanan bapak sudah diantar tadi pagi”, Darto menjelaskan.
Bu Minah adalah penjual nasi di warung sebelah rumah mereka. Setiap hari, dia mengantar makanan untuk bapak Nia. Bapaknya memang berlangganan makanan dari warung itu, sebab dia tidak mau mempunyai pembantu.
Label: Cerpen, Jam Kuno Istriku
Cerita Sebelumnya:
AKU BENCI KAU DENGAN CINTAKU (Bagian 3)
Saat ini akhirnya tiba, benarlah sudah kata orang bahwa Tuhan itu maha adil. Siapa yang menyakiti hati seseorang maka kelak dia akan tersakiti pula. Entah hal ini dilakukan Devan dengan sengaja atau tidak, tapi setelah lama meratapi kesedihannya, Diandra pun sadar dan bisa menerima kejadian ini serta menganggapnya sebagai balasan atas perbuatanya yang pernah menyakiti hati laki-laki yang saat ini sangat dicintainya itu. Hal ini tidak terlepas dari dukungan Ryan yang selalu memberikannya semangat dan memeberikan kata-kata yang selalu bisa membuatnya kuat menghadapi kenyataan bahwa Devan adalah milik orang lain. Diandrakini mengerti mengapa dalu orang tuanya tidak melarangnya pacaran. Ternyata semua itu demi kebaikan putrinya, agar tidak merasakan sakit seperti yang dirasakannya sekarang.
Hari raya pun tiba, tanpa menduga Ryan bersilaturahmi kerumah Diandra bersama dengan Devan. Setelah kejadian itu, ini pertama kalinya bagi mereka bertemu. Rikuh memang, tapi Ryan selalu bisa mencairkan suasana. Ryan pun mengajak untuk bersilaturahmi ke rumah teman-teman yang lain. Setelah menunggu Dii berganti baju merekapun pergi, Ryan meminta Devan untuk membonceng Diandra dan Devan pun mengiyakan permintaan itu. Setelah selesai bertandang ke rumah teman-teman mereka, Ryan meminta ijin langsung pulang kerumahnya. Diandra yang masih di bonceng Devan hanya bisa diam selama perjalanan pulang. Lalu tiba-tiba saja motor Devan berbelok arah dan dia mengatakan ingin mengajak Diandra pergi ke suatu tempat. Tempat itu sangat indah, terletak di daerah dataran tinggi yang dipenuhi dengan hijau pepohonan serta sinar matahari yang menerobos lewat celah dedaunan membuat suasana tengah hari yang terik itu menjadi asri dan sejuk. Kicau burung-burung yang hinggap di atas pohon pun meyertai terciptanya suasana yang tenang dan damai. Di tempat itu Devan menjelaskan apa yang terjadi saat itu, dan apa alasannya melakukan hal itu. Diandra hanya bisa tersedu mendengarkan penjelasan itu. Setelah selesai bercerita Devan bertanya
“Dii, apa kamu membenciku?”
“Aku bisa menerima apa pun yang kamu lakukan padaku.”
“Tapi aku mohon maafkanlah aku!”
Diandra makin tersedu mendengar hal itu dan tiba-tiba saja dia berkata dengan suara yang lirih dan masih terisak.
“Yah, aku benci kamu Van!”
“Aku membencimu dengan seluruh cintaku.”
“Hanya itu Van yang bisa aku lakukan.”
Isak yang tertahan itu pun tidak mampu terbendung sampai akhirnya luber. Tiba-tiba saja secara spontan Devan memeluk tubuh gadis yang terlihat rapuh dan lemah dihadapannya itu.
By: Ari Dwi Cayanti
Label: Aku Benci Kau dengan Cintaku, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
AKU BENCI KAU DENGAN CINTAKU (Bagian 2)
Tiba-tiba saja rasa bersalah muncul di benak Dii, dahulu hubungannya dengan Devan terputus karena dia merasa bahwa Devan terlalu over protect. Selain itu, dia merasa tidak nyaman dan tertekan dengan hubungan itu, karena tidak mendapatka restu dariorang tuanya. Diandra pun selalu saja menjadi sasaran kemarahan ibunya, apa lagi setelah menerima telfon dari pacarnya itu. Dalam keadaan seperti itu Diandara merasa bahwa Devan tidak mau mengerti dengan keadaanya. Saat itu memang usianya baru 16 tahun dan masih duduk di bangku SMA kelas satu, karena itulah orang tuanya melarang Dii untuk pacaran. Tapi saat itu Diandara telah melakukan kesalahan besar, di saat Devan menggantungkan semua harap dan cintanya tiba-tiba saja Diandra memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Yang lebih salah lagi setelah putus dengan Devan, Diandra menerima cinta dari orang lain. Menurut Dii orang itu lebih mengerti keadaannya, ternyata dugaan itu salah. Kenyataannya Devan masih seribu kali lebih baik dari orang itu. Bagi Devan hal ini sangat menyakitkan, tapi toh Devan tetap bersika baik terhadapnya. Tapi sekarang mereka dipertemukan kembali dalam keadaan lain, dimana mereka sudah sama-sama dalam usia remaja dan bisa di bilang akan beranjak dewasa. Tuhan pun mentakdirkan mereka untuk kuliah di kota yang sama, hanya saja berlainan kampus.
Dua minggu waktu liburan pun terlalui tanpa terasa di rumah, enggan rasanya untuk beranjak kembali ke Malang. Hari minggu pagi pukul 05.30 kereta berangkat dari stasiun menuju Malang. Dalam perjalanan, Devan mengirim pesan singkat bahwa akan menjemput Diandra di stasiun Malang, tapi Diandra menolak karena di kereta dia bertemu teman satu kosnya yang kebetulan juga satu kota denganya, Diandra merasa tidak enak kalau harus meninggalkannya sendirian. Devan pun mengalah dan berpesan lagi agar menghubunginya jika nanti Dii telah sampai di tempat kosnya.
Senin sore itu Devan datang ke tempat kos Diandra, dengan ciri khas senyuman yang membuat hati orang tertambat itu Diandra menyambut kedatangan Devan.” Kamu masih tetap seperti dulu Dii lembut dan menyenangkan”. Gadis yang duduk di samping Devan itupun tersipu mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Devan itu. Mereka bercengkrama dan bercanda sambil melepas kangen, karena memang sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Tak henti-hentinya mata indah Devan menatap lekat gadis yang ada di sampingnya. Sampai akhirya mereka memutuskan untuk pergi makan lalu dilanjutkan dengan nonton. Selama jalan, Devan menunjukkan sikapnya yang selalu ingin melindungi Diandra. Tak bisa di pungkiri memang saat itu Diandra merasa senang dan nyaman di sampingnya. Malam itu waktu serasa berjalan cepat, akhirnya merekapun harus rela untuk berpisah dan kembali ke tempat kos masing-masing. Sepertinya malam ini kebahagiaan meliputi hati kedua insan yang telah lama terpisah oleh keadaan itu.
Dua hari kemudian Diandra berulang tahun, meskipun tidak menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat, tapi Dii bahagia Devan tidak melupakan hari ulang tahunnya. Setelah itu intensitas pertemuan mereka pun semakin sering dan merekapun sering pergi berdua meskipun hanya sekedar untuk melepas penat. Rutinitas pertemuan seperti itu pun berlangsung sekitar 3 bulan, dalam waktu itu Diandra pun banyak berharap akan hubungannya dengan Devan bisa kebali seperti dulu. Sampai akhirnya ada kejadian yang membuat mereka terpisah kembali. Ryan adalah sahabat Diandra dan Devan sejak SMA. Ryan kuliah di kampus yang sama dengan Diandra hanya saja berbeda jurusan, dan Ryan adalah tipe orang yang tidak ingin melihat temannya tersakiti.
Lama sekali Devan tidak pernah berkunjung ke tempat kos Diandra, terahir dia kesana saat mengantarkan Dii membeli buku, setelah itu mereka tidak bertemu lagi hampir satu bulan lamanya. Sampai suatu siang di hari minggu itu, Ryan datang ketempat kos Diandra untuk saling mencurahkan permasalahan mereka masing-masing, dan hari itu menjadi hari minggu yang paling kelabu dan menyakitkan bagi gadis periang itu. Sontak saja senyuman yang selalu menghiasi wajahnya itu hilang seketika, setelah mendengar jawaban Ryan tentang pertanyaannya mengenai mengapa Devan tidak pernah lagi datang dan menghubunginya.
“Sebelumnya aku minta maaf Dii, bukannya aku ember.”
“Aku hanya tidak ingin melihat kamu tersakiti.”
Sepertinya Ryan tahu apa yang akan terjadi pada temannya itu jika dia mengatakan yang sebenarnya.
“Ada apaYan?”
“Ayolah katakan, aku siap mendengar apapun kenyataan!”
Dengan nada yang lirih sekaligus ragu-ragu akhirnya Ryan pun mengatakannya” Devan pacaran dengan orang lain Dii.”
“Mereka baru saja jadian kira-kira dua minggu yang lalu.”
Tanpa di suruh cairan panas dari mata Diandra pun meleleh dan jatuh deras seperti air terjun. Dia merasa kehilangan pegangan, terhempas keruang yang paling sudut dari sudut dunia yang sepi. Yang bisa dilakukannya hanyalah diam tanpa sanggup melakukan apapun. Ryan semakin merasa bersalah melihat keadaan sahabatnya itu, diapun berusaha menghiburnya semampu yang dia bisa.
Label: Aku Benci Kau dengan Cintaku, Cerpen
AKU BENCI KAU DENGAN CINTAKU (Bagian 1)
Semenjak kuliah di kota Malang, tradisi pulang kampung merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi Diandra, karena jarak yang jauh membuatnya jarang pulang. Pagi itu langit cerah dan udara pun serasa menyegarkan, Diandra membuka jendela kamar kosnya yang berhadapan dengan perbukitan. Sungguh indah alam yang diciptakan Tuhan untuk manusia. Dengan riang gadis berwajah cantik dengan rambut lurus itu menuju kamar mandi.
“Terimakasih Tuhan akhirnya hari ini aku pulang.”
“Sudah kangen sekali dengan orang rumah.”
Sambil berceloteh sendiri ia jalan menuju kamar mandi, sedangkan teman-teman kosnya sudah pulang terlebih dahulu kemarin sore, karena selama dua minggu kedepan adalah libur semester. Jarum jam pun merayap-rayap hingga akhirnya menunjukkan pukul 13.00, waktunya untuk Diandra bergegas menuju stasiun kereta. 7 jam perjalanan dilalui tanpa terasa, karena terbawa suasana hati yang senang akan bertemu dengan orang-orang yang sangat dicintainya.
Tepat pukul 21.30 kereta berhenti di stasiun yang dituju, terlihat sosok lelaki paruh baya dengan pakaian rapi berdiri di tepi pintu stasiun. Diandra pun menghampiri lelaki itu dan mencium tanganya. Laki-laki itu adalah ayahnya, bagi gadis periang itu kedua orang tuanya adalah sosok yang patut untuk diidolakan. Sesampainya di rumah ibunya menyambutnya dengan hangat dan penuh kerinduan. Setelah makan malam dan membersihkan diri, Diandra pun beristirahat, karena tubuhnya serasa pegal akibat perjalanan yang jauh dan memakan waktu lama tersebut. Pagi pertama yang dilaluinya di rumah dimanfaatkan oleh anak terahir dari dua bersaudara itu untuk membantu ibunya di dapur.
Siang pun beranjak tanpa terasa, setelah selesai membantu ibunya dan mengobrol sebentar dengan ibunya dia pun meminta ijin untuk tidur siang. Ternyata dampak dari kelelahan perjalanannya tadi malam masih terasa sampai siang itu. Di tengah tidurnya Diandra pun terbangun setelah mendengar suara yang tidak asing lagi memanggilnya dengan nama panggilan semasa kecilnya.” Dii, bangun sayang itu ada telfon buat kamu!” Dengan kesadaran yang belum kembali sepenuhnya Diandra mengangkat telfon itu dan mulai berbicara pada orang yang berada di sebrang sana dengan perasaan kaget bercampur gelisah. Perempuan yang menelfon itu bernama Silvi adik kelas Dii semasa SMA, yang ternyata suka pada Devan. Meskipun meladeni pembicaraan silvi tapi fikirannya jauh menerawang memikirkan sosok lelaki yang tengah dibicarakan oleh Silvi. Laki-laki itu adalah Devan yang selama ini telah membuat hatinya tertutup untuk orang lain, Devan yang sangat dirindukannya, dan Devan jugalah laki-laki yang pernah ia sakiti hatinya.
Serasa disambar petir mendengar perkataan Silvi yang berkeinginan untuk bertandang kerumahnya, Dii hanya bisa mengiyakan saja kata-kata gadis yang sedang berbicara dengannya di telfon itu. Di mata Diandara selama ini gadis itu memiliki sikap yang kurang baik, suka berbohong dan mengadu domba orang. Sekali lagi Silvi bertanya
“Beneran mbak aku boleh main kerumahnya mbak?”
Dii pun dengan terpaksa mengiyakan pertanyaan itu.
“Kalau begitu terima kasih ya mbak, sampai ketemu besok.”
Pembicaraan di telfon itu pun berakhir, Sore itu dirasakan sangat tidak nyaman bagi Diandra. Akhirnya dengan berat hati Dii mengambil ponselnya dan menekan nomor yang selama ini ingin sekali dihubunginya tapi dia tidak punya cukup keberanian untuk melakukan hal itu. Akhirnya yang bisa dia lakukan hanyalah menulis pesan singkat
“Sore Devan, bagaimana kabar kamu?”
“Van aku takut banget nih, tapi sebelumnya aku minta maaf sudah mengganggu”.
“Barusan Silvi telfon, dan mengatakan kalau akan main ke rumah.”
“Gimana ni Van?”
Beberapa menit kemudian ponsel Diandra pun berbunyi, ternyata Devan menelfonnya. Hal ini sangat mengejutkan baginya, meskipun setelah putushubungan dengan Devan mereka masih tetap berteman baik tapi tidak biasanya Devan menelfonnya. Hatinya serasa bergetar dan aliran darahnya serasa mengucur deras di sekujur tubuh, setelah sekian lama tidak pernah bertemu dan mendengar suara yang sangat dirindukannya itu. Dari pembicaraan itu Devan tidak mengijinkan Dii untuk menemui Silvi, karena menurut Devan anak itu bisa melakukan apa saja untuk membuat orang lain saling bertengkar. Sebelumnya gadis berkulit hitam dan berambut kriting itu pun mempunyai riwayat yang tidak baik dengan Devan. Saking sukanya dengan Devan dia pun pernah bertengkar dengan Rara pacar Devan setelah putus dari Diandra.
Penampilan dan wajah yang menarik memang salah satu penyebab utama kenapa Devan selalu menjadi idola lawan jenisnya. Keesokan harinya gadis berambut kriting itu pun datang kerumah Dii. Terpakasa Dii tidak menggubris pesan Devan untuk tidak menemuinya. Kewalahan memang kalau harus menghadapi anak itu sendirian, dia terus saja bicara tanpa lelah. Dan seperti biasa semua yang dia katakan hanyalah omong kosong belaka. Dia menceritakan bahwa dia pernah berpacaran dengan Devan, dan sering diajak Devan jalan-jalan. Tak lupa dia pun mengeluarkan skilnya yang lain, dia berusaha mengadu domba Dii dengan Rara. Setelah berjam-jam, akhirnya gadis bertubuh tambun itupun minta ijin untuk pulang.
Selang beberapa saat kemudian Dii mendapat pesan singkatdari orang yang ditunggu-tunggu. Pesan itu menanyakan bagaimana hasil pertemuan dengan Silvi. Pemilik ponsel itu menjawab,” semua akan aku jelaskan nanti malam di telfon.” Tak sabar Dii menunggu malam, gadis yang lemah lembut itu ingin segera menyampaikan semua yang telah di sampaikan Silvi padanya sekaligus mengkonfirmasikan kebenaran omongan itu.
Sembari nonton TV, Dii menunggu ayah dan ibunya tidur terlebih dahulu, barulah dia menelfon Devan. Sekian lama bicara di telfon dan mengkonfirmasi semua info yang ia dapat dari Silvi, Devan hanya berkata
“sekarang semua terserah kamu lebih percaya aku atau dia?”
“Kamu pun kenal bagaimana aku.”
“Apakah mungkin aku melakukan itu semua!”
Suasana hening pun menyelimuti, setelah lama terdiam Dii menjawab.
“Yah, memang tidak mungkin kamu melakukan semua itu.”
“Karena meskipun sebentar aku juga pernah menjadi orang terdekat kamu.”
“Aku tahu bagaimana kamu.”
Terlihat sekali kegembiraan Devan melalui tawa riangnya yang selama ini amat sangat dirindukan oleh Diandra. Tanpa disangka Devan mengatakan sesuatu yang membuat Dii terdiam seribu bahasa.
“Diandra aku kangen sama kamu, aku pengen kita seperti dulu lagi.”
Label: Aku Benci Kau dengan Cintaku, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
AKHIR SEBUAH PERAN (Bagian 4)
Hingga beberapa hari Ami tidak mau keluar kamar bahkan untuk makan sekalipun. Orang-orang rumahnya sampai kewalahan membujuk Ami. Makanan yang diantar ke kamarnya juga tak tersentuh. Ami yang terlihat begitu tegar di depan Andi ternyata sangat rapuh. Hatinya benar-benar hancur menjadi kepingan-kepingan yang sangat sulit untuk dijadikan utuh lagi. Sore ini ia kembali menangis sekeras-kerasnya. Hal yang paling membuatnya sedih adalah Sally, ketidakpercayaannya pada Sally, prasangka buruknya pada sahabat baiknya, tuduhan-tuduhan kasarnya, semuanya membuatnya muak pada dirinya sendiri. Ia merasa kesalahannya pada Sally tidak lagi dapat dimaafkan. Ami semakin tidak bisa mengendalikan emosinya, dia banting semua pemberian Andi. Ia muntahkan kenangan-kenangan manisnya bersama Andi yang hanya berlangsung belasan hari itu lewat sumpah serapahnya.
Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk. Ami segera menyusup air matanya, tapi tak juga beranjak dari posisinya yang telungkup.” Mi, boleh aku masuk?” tanya pengetuk suara yang ternyata Sally. Ami terperanjat mendengar suara itu. Ia tidak menyangka Sally masih mau datang ke rumahnya.” Eh, kamu Sall, boleh, masuk aja!” kata Ami sambil bangun dan menyunggingkan senyum yang hambar karena ada rasa sangsi di hatinya Sally datang sebagai sahabat, bukan musuh yang dendam.” Kamu masih marah?” tanya Sally begitu mereka berhadapan. Sally duduk di sebelah Ami, di atas kasur yang lusuh dan pulau-pulau air mata yang terbentang di atasnya. Ami agak risih dan malu. Ami juga kaget mendengar pertanyaan itu, apa ia tidak salah dengar, seharusnya ia yang bertanya seperti itu. Ami kembali menangis,” Nggak Sall, kamu yang seharusnya marah padaku! Aku sudah tidak mempercayaimu, sahabatku sendiri, dan aku juga telah menuduhmu dengan keji. Aku nggak pantas disebut sahabat Sall! Maki-maki saja aku! Kamu jangan bersikap seperti ini, ini malah membuatku semakin merasa bersalah!” katanya dalam isak. Sally segera memeluk Ami,” Aku nggak pernah bisa marah sama kamu Mi, kamu sudah kuanggap saudara kandung sendiri”.
“Ternyata aku begitu bodoh Sall. Aku malah mempercayai buaya seperti dia. Aku mengkhianati persahabatanku demi buaya. Aku nggak layak dimaafin, jangan maafin aku Sall, aku mohon!” Ami mencoba melepaskan pelukan Sally, tapi pelukan itu malah semakin kuat.” Nggak Mi, jangan ngomong gitu! Kamu nggak bodoh, Andi aja yang brengsek. Bukan kamu aja korbannya. Dan aku nggak mau gara-gara masalah seperti ini persahabatan kita hancur. Aku dan kamu tetap sahabat seperti dulu”. Sally melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Ami dengan tangannya sendiri.” Udah, jangan nangis terus! Eh, kamu tahu nggak, waktu pulang dari sini setelah kejadian itu , aku ngikutin Andi lho. Setelah tahu tempat-tempat dia biasa nongkrong, dari situ aku selidiki dia,” Ami menyusut air matanya yang masih tersisa, ia mulai fokus pada cerita Sally,” dari situ pula aku tahu dia punya banyak cewek . Andi pandai mengatur jadwal biar nggak bentrok. Ya udah, aku kasih tau aja ke semua ceweknya kalau Andi itu playboy. Uh, aku seneng banget, mereka semua berhasil mergoki Andi ma cewek lain. Otomatis deh, dia diputusin ma cewek-ceweknya”.” Oh ya? Rasain tuh!” jawab Ami, ada binar kemenangan di matanya.” Jadi, kita tetap sahabat kayak dulu nih?” tanya Ami.” Emang mau sahabatan kayak gimana lagi? Mau lebih erat? Boleh!” jawab Sally kembali memeluk Ami, menyalurkan hangat persahabatan mengaliri hati dan raga. Kedua sahabat itu akhirnya beruarai dalam tawa. Sore yang cerah mengiringi cerah hati keduanya. Menuntaskan cerita cinta palsu dan duka karenanya. Sang waktu mengakhiri peran sang aktor laga dan mengubur kisahnya dalam kisah baru yang kini mulai ditulis dalam kertas yang baru pula.
By: Lilis Anifiah Zulfa
Label: Akhir Sebuah Peran, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
AKHIR SEBUAH PERAN (Bagian 3)
“Nggak, nggak mungkin!” teriak Ami mendengar cerita Sally tentang kejadian sore kemarin.” Nggak mungkin!” teriaknya lagi. Sally menarik nafas panjang. Ada sesal di hatinya ketika melihat wajah Ami yang mendung. Ia mengutuk dirinya sendiri akan keputusannya sore ini datang ke rumah Ami dan menceritakan kebusukan Andi.” Ya mpun Mi, mana mungkin aku bohongin kamu? Kamu kenal aku sejak kecil! Andi itu buaya!” kata Sally pelan.” Tapi itu nggak mungkin Sall, Andi orangnya baik dan selama ini dia tidak pernah menunjukkan gelagat seperti yang kamu bilang barusan! Atau jangan-jangan kamu ingin merebut Andi dariku dengan membuat cerita bohong?” Sally melotot mendengar pertanyaan itu, ada perasaan sedih yang tak terucapkan. Ia berharap ia hanya salah dengar. Ia kecewa ternyata Ami meragukan kesetiaan persahabatannya. Ami sendiri sebenarnya menyesal telah mengatakan hal itu, dia sangat mengenal dan menyayangi Sally, sahabat sejak kecil yang selalu dipercayainya sampai beberapa detik yang lalu ketika Sally menceritakan kebusukan Andi. Namun cinta Ami yang begitu besar pada Andi menutup semua logika yang ada. Ada keinginan untuk percaya pada Sally tapi ia juga takut kehilangan Andi, cowok yang mengenalkannya pada cinta.” Terserah kamu Mi, aku dah berusaha menjelaskannya padamu. Aku hanya tidak mau kamu dibodohi oleh buaya seperti Andi. Aku sayang ma kamu Mi!” ketika mengatakan hal itu, air mata Sally bergulir melewati pipinya yang dipoles make-up tipis. Lalu ia beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar Ami. Sebetulnya Ami ingin sekali menahannya, tapi lagi-lagi cinta itu menghalanginya, cinta pada Adi yang baginya adalah cinta sempurna. Ami lebih sulit percaya lagi mengingat perkenalan Andi dan Sally yang masih berumur dua minggu, mana mungkin secepat itu, pikirnya. Tapi bukankah dia dulu juga hanya butuh perkenalan dan pedekate yang sangat singkat?” Tidak, aku juga tidak mau kehilangan Sally”, kata Ami dalam hati.
Akhirnya Ami memutuskan untuk mengejar Sally, tapi langkahnya terhenti di tangga ketika terdengar percakapan di ruang tamu rumahnya. Suara-suara itu sangat akrab di telinganya. Ami memutuskan untuk bersembunyi untuk mendengarkan percakapan tersebut.” Gimana Sall, tentang tawaran Andi kemarin? Soalnya kalau kamu setuju, ini hari Andi akan mutusin Ami”. Jantung Ami berdegup keras, ia melangkah sejengkal untuk mengintip, benar saja, di ruang tamu itu ada Sally dan Andi.” Duh, gimana ya, soalnya aku belum bisa percaya ceritamu tentang Ami” jawab Sally masih mencoba menahan diri.” Percaya deh ma Andi! Ami itu memang gadis yang tak tahu diri! Malah dia pernah ngancam mau bunuh diri kalau Andi nggak terima cintanya. Lagian, dari cara ngrayunya, udah kelihatan kalau dia itu cewek mata duitan!”. Hati Ami sangat panas mendengarnya. Ia ingin keluar dari persembunyiannya untuk melihat reaksi Andi, tapi ia urungkan niatnya. Ia ingin mendengar percakapan selanjutnya.” Gimana Sall? Andi bener-bener sayang ma Sally. Andi belum pernah merasakan ini sebelumnya pada cewek manapun. Masa Sally masih nggak percaya? Sejak melihat Sally pertama kali aja, Andi dah deg-degan, apa namanya coba kalau bukan cinta?”. Sally tersenyum sinis mendengar rayuan Andi.” Huh, asal kamu tahu ya Ndi, aku tuh dah kenal Ami sejak kecil, aku tahu sifat-sifat dia! Aku juga tidak mungkin mengkhianati sahabatku sendiri demi buaya darat kayak kamu!” kata Sally sambil berlalu meninggalkan Andi yang terbengong-bengong.” Ini kesempatan aku keluar” kata Ami dalam hati.
“Ya udah, dasar cewek galak, bego, diajak enak nggak mau! Emangnya Andi sedih ditolak ma kamu! Masih banyak cewek yang mau dengan cowok seganteng Andi!” teriak Andi pada Sally yang tak lagi menoleh.” Ada apa Ndi?” tanya Ami yang tiba-tiba sudah ada di belakang Andi. Andi terperanjat,” Ah, enggak, e…, ini lho, Andi sedang menghafal dialog drama buat besok di kampus” jawab Andi gugup.” Judulnya apa?”, tanya Ami tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.” E.., judulnya…, judulnya…, apa ya?” tanya Andi pada diri sendiri.” Oh iya, anu, judulnya Sang Playboy!” kata Andi akhirnya setelah beberapa lama.” Sang playboy yang udah punya pacar, tapi menggoda teman pacarnya, dan ditolak?” tanya Ami lagi masih tenang.” Ya, ya, betul! Kamu kok tahu sih?” jawab Andi sekenanya, tapi ada kegugupan di wajahnya.” Ya tahu dong, aku kan berperan jadi pacar playboy itu” kata Ami mulai kasar.” Maksud kamu Sayang?” tanya Andi pura-pura tidak mengerti.” Si pacar dimaki-maki di depan temennya, demi mengambil hati cewek itu kan? Tapi sayang cewek itu lebih mencintai persahabatannya, iya kan?” lanjut Ami tidak memperdulikan pertanyaan Andi.” Sayang, pasti ini cerita si Sally kan? Jangan percaya ma dia Sayang! Dia itu cewek bermuka dua. Lidahnya tajam. Emangnya dia bilang apa aja ke kamu? Dia pasti cerita yang enggak-enggak tentang Andi ya? Dia pasti bilang kalo Andi ngerayu dia, padahal dia yang ngerayu Andi. Malah dia nyuruh Andi untuk mutusin Yayang” kata Andi sambil merangkul Ami yang hanya diam. Tetapi di luar dugaan Andi, Ami menyentakkan tangannya,” Oh ya? Tega bener tuh temennya? Atau si playboy yang kata-katanya nggak bisa dipegang?”.
“Lho, kamu kok malah percaya ma Sally sih daripada ma Andi, pacar Ami sendiri? Padahal Sally dah ngejelek-jelekin Ami lho!”.” Akhir ceritanya gini kan?” tanya Ami sambil menampar pipi Andi keras-keras.” Lho, kamu kok jadi gini sih sayang?” tanya Andi yang meringis kesakitan. Ia pegangi pipinya yang memerah.” Lho, kenapa? Akhir ceritanya kan gitu? Terus gini kan, dasar playboy! Hubungan kita sampai di sini! Selamat tinggal!” Ami mendorong keluar rumah tubuh Andi yang masih terpaku tidak percaya. Ami kemudian mengunci pintu dari dalam dan berlari ke kamarnya.” Sayang, dengerin dulu dong! Akhir ceritanya si playboy sadar dan berbahagia bersama pacarnya!” teriak Andi sambil menggedor-gedor pintu, tapi semuanya hanya sia-sia. Ami tak pernah keluar dan Andi juga tidak menyadari ada kejutan lain untuknya.
Label: Akhir Sebuah Peran, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
AKHIR SEBUAH PERAN (Bagian 2)
Sesampainya di taman sore harinya, Sally sudah melihat Andi yang cengar-cengir kayak orang nggak waras.” Hallo nona manis…”, sapa Andi begitu mereka berhadapan.” Sore juga tuan Andi,” jawab Sally singkat saja. Meski matahari tak lagi terik dan angin bertiup sepoi-sepoi menerpa pohon-pohon rindang tempat dia berdiri, tapi bagi Sally udara saat itu sangat panas. Andi mempersilakan Sally duduk di bangku taman yang sedari tadi dia duduki.” Ada apa sih ngajak keluar segala?”, tanya Sally masih dengan ekspresi kesal.” Enggak, Andi cuma mau minta tolong sama Sally,”. Dahi Sally berkerut mendengar jawaban itu.” Minta tolong? Minta tolong apa?”tanyanya tidak mengerti.” Gini lho, sebenarnya Andi tu tidak suka sama Ami,” Sally terperanjat, ia langsung berdiri dan menatap Andi dengan pandangan yang sangat jijik,” Lalu kalo nggak suka kenapa kamu pacaran ma dia?” tanyanya tidak sabar.” Tenang, tenang dulu! Sally duduk dulu!” kata Andi sambil menuntun Sally untuk duduk. Sally tidak menolak, tapi wajahnya masih sarat dengan kebingungan.” Gini Sall, gimana aku nggak mau, wong Aminya itu ngejar-ngejar terus. Aku kan tipe cowok yang nggak tegaan ma cewek, apalagi jika dia ngejar-ngejar ampe nangis segala”.” Masa sih?”, pancing Sally. Dalam hati Sally memaki-maki Andi. Ia tahu betul siapa Ami dan bagaimana dia. Ami adalah gadis polos yang tidak pernah jatuh cinta kecuali pada Andi. Sally pun yakin Ami tidak akan menjual harga dirinya demi mengejar cinta seorang cowok. Sally ingin tahu apa mau Andi dengan pura-pura percaya.” Iya, masa sih nggak percaya? Ami itu hanya luarnya yang kelihatan polos, tapi dalamnya ganas banget. Kamu tahu nggak, waktu ketemu di mall, Ami duluan yang ngajak kenalan Andi”. Sally hanya diam mendengarnya, tapi dalam hati ia merutuk menahan kesal.” E…, Sally, sebetulnya,sejak pertama melihat Sally, ada perasaan tertentu di hati Andi. Andi rasa ini adalah cinta. Andi yakin Andi telah jatuh cinta pada Sally”, ketika mengatakan itu tangan Andi memegang tangan Sally. Sally membiarkannya karena jika menolak, dia khawatir itu akan mengacaukan penyelidikannya.” Ah, yang bener Ndi?” tanya Sally sambil pelan-pelan melepaskan pegangan Andi, perutnya terasa mual. Ia berusaha menahan diri untuk tidak memukul wajah makhluk di sampingnya itu.” Sumpeh deh, kalo Sally nggak percaya, Sally boleh membelah dada Andi sekarang juga!” kata Andi sambil membusungkan dadanya. Mendengar semua itu Sally semakin ingin muntah. Melihat Sally yang hanya diam Andi melanjutkan rayuan gombalnya,” Sally percaya dong ma Andi! Andi rela kok mutusin Ami demi Sally. Makanya tadi Andi mau minta tolong Sally tuk bilang ke Ami bahwa Andi ingin putus dari dia. Andi nggak tega jika harus ngomong sendiri, ntar takutnya di nangis lagi kayak kemarin waktu Andi mau putusin”. Sally masih diam. Hal itu membuat Andi tidak tenang dalam duduknya. Ia bergeser semakin menghadap Sally. Kini kedua mata mereka beradu. Sally hanya menatap kosong pada wajah Andi yang ternyata mulai penuh dengan jerawat-jerawat kecil yang kelihatan menyembul di balik polesan yang lumayan tebal. Sally baru menyadari bahwa ternyata Andi memakai bedak dan sangat kentara jika dilihat dalam jarak yang cukup dekat. Mungkin dia tidak menyadarinya karena karena ditutupi oleh kulit Andi yang lumayan putih dan warna bedak yang sesuai. Berarti dia ini memang seorang pesolek, pikir Sally.” Gimana Sall?” Andi semakin tidak sabar melihat Sally yang masih diam dan terus memandanginya. Pertanyaan itu membuat Sally tersadar dari lamunan. Tiba-tiba ia berdiri,” Aku pikir-pikir dulu deh!” jawabnya sambil beranjak meninggalkan Andi tanpa menoleh lagi.” Andi tunggu lho Sall!” teriak Andi, tapi Sally tak lagi menoleh, ia terus melangkah dan sibuk dengan kecamuk pikirannya.
Di rumah Sally langsung menuju kamar. Ia merebahkan tubuhnya tanpa melepas sepatu. Pikirannya masih melayang pada Ami dan Andi. Sally. Ia kembali terkenang kebersamaannya dengan Ami dari masa di Taman Kanak-kanak yang lugu hingga usia enam belas tahun, masa remajanya sekarang. Juga cinta monyet Sally yang diselingi tangis dan curhat rutinnya pada Ami. Meski masa cinta monyet kala itu tidak dinikmati Ami, Ami mampu memberikan petuah-petuah yang sangat berharga bagi Sally. Dan kini, persahabatannya dipertaruhkan dengan cinta pertama Ami. Sally takut untuk mengatakan ini semua pada Ami, tapi dia juga tidak mau sahabatnya dipermainkan Andi. Pikiran-pikiran itu membuat Sally lupa waktu. Malam yang mulai merambati hari tidak ia sadari. Dinginnya juga tidak ia rasakan. Matanya kini terpejam, tapi pikirannya masih terjaga tanpa sadar sekeliling.
Label: Akhir Sebuah Peran, Cerpen
AKHIR SEBUAH PERAN (Bagian 1)
“Ami…” rajuk Sally,” ya, please…”, rajuknya lagi.” Gimana ya?”, goda Ami melihat temannya yang merajuk seperti anak kecil.” Boleh ya?”, tanya Sally lagi sambil mengguncang-guncang tangan Ami.” Aku kan penasaran mendengar temanku yang polos dan pendiem ini bisa dapat cowok anak kuliahan yang umurnya beda empat tahun. Kan aneh gitu, paling nggak ya temen sekelas lah ato malah dijodohin, lha ini, kenal di mall? Jangan-jangan, cowokmu bopeng ya? Hehehe” goda Sally.” Enak aja!” sungut Ami.” Makanya, klo gitu kenalin dong! Biar aku nggak mikir yang macem-macem! Masa punya pacar ganteng nggak dikenalin ma temenmu dari kecil yang cantik ini?”. Ami terdiam sebentar, tapi wajahnya tersenyum apalagi melihat wajah memelas Sally, akhirnya” Baiklah!”.” Ye…, Ami cantik deh!”, teriak Sally, girang.” Tapi janji,…”kata Ami tiba-tiba.” Apa?”.” Jangan sampai kamu curi perhatiannya, ingat, dia pacarku!”kata Ami dengan penuh ancaman.” Oke-oke, aku akan menepati janji, tuk…merebut pacarmu!” goda Sally.” Apa? Awas ya!”, teriak Ami, lalu dia mengejar Sally yang mencoba bersembunyi, kamar Ami yang lumayan besar itu kini riuh oleh teriakan dan jeritan menghiasi hari yang menjelang malam.
Siang itu Sally sudah berada dalam kamar Ami karena pacar Ami janji akan datang.” Mi, siapa sih nama cowokmu?”, tanya Sally sambil mendekati Ami yang sibuk dandan.” Andi, kenapa? Awas lho!” jawab Ami masih sibuk bercermin.” Enggak-enggak, tenang aja! Tapi…, klo si Andinya yang mau sama aku, jangan marah lho!”.” Ih…, mas Andi bukan tipe kayak gitu ya, nggak mungkin dia akan mengkhianatiku, ngaco kamu!” jawab Ami kesal.” Iya deh, iya, mas Andi adalah cowok tersetia di dunia!”, teriak Sally seperti orang yang tengah berdemo di depan gedung DPR. Amipun mencubit Sally, lagi-lagi terjadi pergulatan, tapi tiba-tiba kegaduhan itu berakhir ketika bel pintu meraung-raung.” Andi!” teriak Ami dan Sally hampir bersamaan lalu keduanya berhambur lari ke pintu depan.” Hai sayang,” kata cowok yang lumayan cakep itu setelah pintu di buka. Andi adalah cowok yang berpenampilan rapi dan terlalu wangi untuk ukuran cowok. Badannya yang lumayan kerempeng diimbangi tingginya yang pas, jadi tidak terlalu terlihat kurus kering, setidaknya itu pendapat Sally begitu melihat Andi.” Hai Ndi,” balas Ami,” Ayo masuk dan silakan duduk tuan muda!” goda Ami.” oh ya, kenalin ni temen Yayang dari kecil ampe sekarang kelas 1 SMA, namanya Sally”.” Sally” kata Sally yang sedari tadi bengong, ia menerima uluran tangan Andi.” Andi”, kata Andi,” Cantik juga ya,” kata Andi kemudian.” Duh, Yayang cemburu nih!”, rajuk Ami sewot, sedangkan Sally hanya tersenyum malu.” Hahaha, Yayang, Yayang,Yayang jangan cemberut gitu dong! Yayang jangan kuatir, buat Andi, Yayang Ami adalah cewek yang tercantik” kata Andi sambil mencubit pipi Ami. Sally hanya tersenyum melihat adegan itu, sedangkan yang dicubit makin mesra menggandeng tangan kekasihnya.
Sejak perkenalannya dengan Andi, Sally menjadi agak bimbang. Andi menjadi sering menelphonnya untuk hal-hal yang kecil. Sally merasa aneh karena hal-hal yang ditanyakannya bukan soal Ami, tapi hanya apakah dia sudah makan, sedang apa, atau hal-hal yang disukai Sally. Ada perasaan takut yang merayapi hatinya, jangan-jangan Andi itu playboy dan hanya ingin mempermainkan Ami, sahabatnya, pikir Sally. Sally ingin mengatakan itu pada Ami, tapi melihat cinta Ami pada Andi, Sally ragu kembali. Ami terlihat begitu mencintai Andi, setiap hari Sally selalu mendengar Ami bercerita tentang Andi. Ami tampak begitu bahagia ketika bercerita, itu terlihat benar di mata indah Ami. Apalagi Sally tahu Andi adalah cinta dan pacar pertama bagi Ami, Ami yang dikenalnya begitu pendiam dan polos.” Tidak, aku tidak boleh mengatakan pada Ami tentang Andi yang sering menelphonku”, putus Sally akhirnya.” Kriing…, kriing…”, dering telphon membuyarkan lamunan Sally, segera ia mengangkat gagang telphon yang berada di meja tepat di samping tempat tidurnya.” Halo,”sapa dari seberang begitu telphon diangkat.” Halo, ada yang bisa saya bantu?”, jawab Sally.” Sally kan? Ni Andi, tentunya masih inget kan?”.” Oh kamu, ya ingetlah wong baru tadi pagi nelphon dan ini juga siang belum berlalu lama, ada apa?” jawab Sally agak ketus.” Duh cantik-cantik kok galak sih? Gini, e…., nanti siang Sally ada acara nggak?”, tanya Andi terdengar agak gugup.” Nggak, emang kenapa?”, tanya Sally ogah-ogahan.” Gini, gimana kalo kita jalan? Di taman misalnya?”.
Sally terhenyak mendengar ajakan itu, mau apalagi ni orang? Tapi, kuterima aja tawarannya, aku ingin tahu apa mau ni orang, katanya dalam hati.
“Gimana ya?”, tanya Sally mencoba memancing reaksi Andi.” Ayo dong Cantik, aku kan nggak minta macem-macem, masa jalan gitu aja nggak bisa?”, rayu Andi. Sally merasa ingin muntah mendengar kata-katanya.” Ya udah, jadi di mana?”, jawab Sally akhirnya walau hatinya memaki-maki.” Oke, kita ke taman kota aja, kan dekat tuh dari rumah Sally. Andi jemput atau ketemuan di sana?” , tanya Andi girang. Ih, nggak niat banget, pikir Sally,” Ketemuan di sana aja, jam empat!”.” Bener nih nggak mau Andi jemput? Ya udah, Andi tunggu di sana, jam empat! Sally cantik deh, mau jalan ma Andi”. Sally makin muak mendengarnya,” Jadi nggak nih? Kok nggak ditutup-tutup? Aku kan mau siap-siap, ni dah jam berapa?”.” Oke-oke, Andi tutup, Sally jangan ngambek dong, jangan dibatalin ya acaranya!”, rayu Andi,” Ya udah, Andi tutup nih, ampe ketemu di taman ya, Sally cantik,…daaa”, tak berapa lama kemudian terdengar gagang telphon diletakkan. Sally menghembuskan nafas panjang, kepalanya makin pusing. Tapi dia ingin tahu apa sebenarnya mau Andi dengan harapan dia bisa mengumpulkan banyak fakta pada Ami. Sally akhirnya memutuskan untuk mandi. Kakinya ia seret keluar kamar.
Label: Akhir Sebuah Peran, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
MENJELANG KEPERGIAN IBU (Bagian 4)
Pukul 13.00
Saudara-saudaraku yang ada di Pasuruan sudah datang semua. Kami bersama-sama membacakan surat
Yasin supaya ibu dimudahkan saat sakaratul maut.
pukul 18.00
Tetes air mata terus mengalir dari mataku dan semua saudara-saudaraku. Ibu masih tidak dapat mengingat. Aku dan kedua adikku sudah mengikhlaskan ibu agar ibu bahagia di alam akhirat nanti.
ibu seperti ini. Maafin kita ya, Bu. Kita sayang Ibu. Terus istighfar, Bu.” kataku masih dengan menangis.
“Emak.. tolong aku, Mak. Aku diikat di atas. Tolong aku, Mak.” kata ibu.
Aku langsung ingat waktu ibu kesetanan dulu saat diruqyah. Setannya dulu ngomong klo menyantet ibu dengan cara mengambil sesuatu dari tubuh ibu (aku kurang tahu apa itu) kemudian mengikatnya di loteng rumah Parmi tersebut.
Pukul 22.00
Kondisi ibu semakin parah. Bola matanya sudah tidak nampak, yang ada hanya mata yang berwarna putih. Bisikan-bisikan kata Allah slalu dibisikkan di telinganya.
“Istighfar, Bu. Allah... Allah...,” bisikku di telinga Ibu.
“Bu, maafin aku dan adik-adik ya. Selama ini kita nakal pada ibu. Kita ikhlaskan ibu agar ibu tenang di alam sana. Ibu juga ikhlaskan kita ya,” bisikku dengan air mata yang berlinang.
Ibu mengeluarkan air mata di ujung matanya yang putih itu. Ibu mungkin terharu mendengar kata-kataku.
“Maafin aku ya, Bu. Ibu jangan menangis. Ntar kita tambah sedih liat
2 Februari 2004
“Ibu... Ibu...,” teriakku saat ku lihat ibu sudah tidak bernyawa setelah aku bisikkan kata terakhir, aku berjanji akan jaga adik-adikku. Adik-adikku histeris melihat kenyataan itu. Adikku yang paling kecil meraung-raung tidak karuan. Aku langsung memeluk mereka.
“Sabar ya sayang. Kita ikhlaskan Ibu. Apa adik ingin Ibu sakit terus? Mending Ibu seperti ini daripada sakit terus,” bujukku pada adik kecilku.
“Gak mau... gak mau... ibu gak boleh mati,” teriak adikku.
Tiba-tiba denyut jantung ibu berdetak lagi. Dokter yang dipanggil untuk melihat apakah ibu sudah tidak bernyawa mengatakan klo detak jantung ibu berdetak lagi. Bapak dan saudara-saudaraku menenangkan ibu supaya ibu mengikhlaskan anak-anaknya.
“Sudahlah, Bu. Ikhlaskan anak-anak. Anak-anak biar aku yang jaga,” bisik Bapak menenangkan ibu.
“Aku sayang kamu, Bu,” bisik bapak.
Setelah bapak dan saudara-saudaraku menengkan ibu, denyut jantung Ibu tidak ada lagi. Kami semua mengikhlaskan ibu pergi dengan tenang.
Kami tidak mau ibu tersiksa di dunia hanya karena penyakit kiriman dari orang lain. Lebih baik ibu berada di alam sana memetik kebaikan yang selama ini telah ibu tanam.
Ibu, semoga engkau damai di alam sana. Doaku selalu mengalir untukmu.
By: Fika Rahmawati
Label: Cerpen, Menjelang Kepergian Ibu
Cerita Sebelumnya:
MENJELANG KEPERGIAN IBU (Bagian 3)
16 Maret 2003
Penyakit ibu kambuh lagi. Perut ibu membesar lagi. Padahal ibu selalu rutin kemoterapi. Memang benar kata orang klo terkena santet itu akan diganggu terus sampai orang itu dan keluarganya tidak berdaya lagi. Keluargaku sudah membawa ibu ke kyai-kyai yang sekiranya bisa menyembuhkan ibu. Namun, kata kyai Bu Parmi itu sulit dilawan. Bu Parmi minta bantuan bapaknya yang juga seorang tukang santet dan roh gurunya.
15 September 2003
Sudah lima bulan ini ibu dibawa ke suatu asrama di Probolinggo. Asrama ini atau lebih tepatnya tempat pondokan untuk orang yang sakit itu bernama Ampera. Tiap hari kami sekeluarga menjenguk ibu ke Probolinggo. Sepulang sekolah, aku dan adik-adikku langsung berangkat ke sana. Jauhnya tempat tak menghalangi keluargaku untuk menjenguk ibu. Yang kami inginkan hanya kesembuhan untuk ibu.
20 Januari 2004
Malam hari, 23.58
“Din... Din..., tolong Ibu. Ibu maukencing.” pinta Ibu padaku yang masih tidur.
“Iya, Bu,” jawabku masih dengan mata mengantuk.
Sudah beberapa bulan ini tiap malam Ibu membangunkan orang yang ada di rumah untuk membantu Ibu kencing. Ibu tidak dapat kencing sendiri karena ibu menggunakan pespot untuk buang air kecil.
“Maaf ya, Ibu slalu bangunin kamu tiap malam.”
“Gak apa-apa kok, Bu. Ibu bisa panggil aku kapan saja.” jawabku lirih masih sambil mengantuk.
“Makasih ya nduk. Ntar klo ibu dah gak ada, ibu gak akan ngrepotin lagi kok. Mungkin tinggal menghitung hari aja,” kata ibuku.
“Ibu itu ngomong apan? Yang namanya jodoh, rezeki, kematian itu Allah yang mengatur. Ibu gak boleh ngomong gitu lagi,” jawabku dengan jengkel. Aku gak suka klo ada orang yang ngomong masalah kematian.
1 Februari 2004
Pukul 12.00
Hari ini hari yang melelahkan bagiku. Tadi di sekolah aku dimarahi guru B. Inggris karena aku gak bisa jawab pertanyaan yang diajukannya. Sesampai di rumah, aku langsung ambil wudhu buat sholat dhuhur.
“Din, panggilkan bapak,” pinta Ibu padaku saat aku selesai sholat dhuhur.
“Iya, Bu,” jawabku singkat.
“Pak, panggil Ibu,” kataku pada bapak yang sedang beresin barang-barang yang numpuk.
“Iya, bentar,” jawab bapak.
Bapak kemudian menemui Ibu di ruang tengah.
“Ada apa, Bu?” tanya bapak.
“Emak... Emak... Emak....” rengek Ibu memanggil Ibunya.
“Lho, katanya tadi manggil saya, sekarang kok manggil Emak?” tanya bapak heran.
Bapak akhirnya meninggalkan Ibu untuk meneruskan pekerjaan yang tertunda tadi.
“Din, panggilkan Bapak cepat,” pinta Ibu kemudian.
“Lho? Itu tadi udah aku panggilin bapak tapi Ibu malah manggil Emak. Ibu sebenarnya pingin dipanggilin siapa?” jawabku kesal.
“Bapak, Din,” pinta Ibuku.
“Pak, dipanggil Ibu sekarang.”
“Ada apa lagi?” tanya bapakku.
“Bapak dipanggil Ibu.” jawabku.
“Ada apa, Bu?”
“Emak... Emak... Emak....”
“Tuch kan, Pak. Tadi panggil bapak kemudian Emak.”
“Kamu sekarang telepon saudara-saudara saja, di Gresik, Surabaya, ama Batu. Katakan ama mereka klo Ibu sudah tidak ingat apa-apa,” pinta Bapak padaku dengan tenang.
“Maksudnya apa, Pak?” tanyaku.
“Ibu kamu itu sekarang sudah tidak mengingat apa-apa. Itu biasanya ciri-ciri orang yang sakaratul maut. Mungkin ini sudah waktunya Ibu untuk menemukan kedamaian,” kata bapak memberi penjelasan padaku.
“Apa Ibu gak bisa disembuhin lagi, Pak?” rengekku pada Bapak.
“Kamu ikhlasin aja agar Ibu tenang di alam sana. Sekarang kamu telepon saudara-saudara.” perintah bapak.
“Baik, Pak,” jawabku sambil terisak.
Aku langsung pergi ke wartel sebelah rumah. Aku telpon seluruh saudaraku, mengabari kondisi ibu.
Label: Cerpen, Menjelang Kepergian Ibu
Cerita Sebelumnya:
MENJELANG KEPERGIAN IBU (Bagian 2)
10 Desember 2002
Saat terik matahari terasa di atas kepala, datang dua orang berseragam polisi ke rumahku. Mereka ingin bertemu dengan bapak. Kata mereka, bapak dapat panggilan dari polisi atas tuduhan pencemaran nama baik.
“Permisi, bisa bertemu dengan Pak Harjo?” tanya salah satu polisi berseragam itu.
“Bapak tidak ada di rumah, bapak masih kerja. Memangnya ada apa Pak?” tanyaku pada polisi tersebut.
“Ini ada surat panggilan dari kantor polisi untuk Pak Harjo,” jawab polisi.
“Surat panggilan mengenai apa, Pak?” tanyaku pada polisi tersebut.
“Pak Harjo dituduh mencemarkan nama baik Bu Parmi. Besok siang Pak Harjo harus memenuhi surat panggilan tersebut,” kata polisi tersebut sambil berpamitan pulang.
“Oh... begitu ya,” jawabku singkat.” Terima kasih, Pak.”
Bapak dapat surat panggilan polisi? Hal ini pasti ada kaitannya dengan peristiwa dua hari yang lalu. Parmi dan suaminya melabrak orang tuaku. Mereka tidak terima karena disebut Grandong (nama anak Mak Lampir dalam sinetron Misteri Gunung Merapi) oleh adikku yang terkecil. Mereka mendatangi rumahku dan terjadilah pertengkaran kecil dalam perdebatan antara orang tuaku dengan Parmi dan suaminya. Tetapi sekarang bapak mendapat surat panggilan dari polisi? Keluargaku memang apes, ibu sudah disantet, bapak dilaporkan ke kantor polisi pula.
12 Desember 2002
“Pokoknya masalah ini harus ditutup,” kata bapak pada kakaknya yang sarjana hukum.
“Kamu tenang aja. Serahkan semua urusan padaku. Kepala Kepolisian Pasuruan temanku, masalah ini pasti akan ditutup,” kata Pak Dheku menenangkan bapak.
23 Januari 2003
Sudah banyak dokter yang menyatakan ibu tidak terkena penyakit apapun. Namun, saat ibu dibawa ke Rumah Sakit Delta Surya, Sidoarjo, ibu divonis menderita kanker rahim dan kanker payudara. Umur ibu juga divonis hanya bertahan sekitar dua tahun.
“Ibu dan bapak yang sabar ya. Setelah saya lihat hasil laboratoriumnya, ibu ternyata menderita kanker rahim. Di payudara ibu juga ditemukan kanker.”
“Ya Allah. Cobaan apa lagi yang kau berikan padaku. Mengapa dua penyakit mematikan ada pada tubuhku?” tangis ibu seketika.
“Ibu sabar ya...,” bujuk bapak. Sebaiknya, apa yang harus kita lakukan, Dok?”
“Penyakit kanker hanya dapat disembuhkan dengan jalan operasi. Gimana, Pak, Bu?” tanya dokter Wahyu, dokter spesialis penyakit dalam.
“Dok, apa tidak ada cara lain lagi untuk menyembuhkan penyakit saya ini? Saya tidak kuat lagi.” jawab Ibu putus asa.
“Sudahlah, Bu. Kita harus berusaha agar ibu sembuh dari penyakit mematikan ini. Ibu jangan pesimis.” kata bapak menenangkan ibu.
“Operasi Insya Allah dapat menyembuhkan ibu dari kanker tersebut. Ibu harus tetap optimis. Klo ibu sudah pesimis duluan, operasinya juga tidak akan berhasil,” kata dokter ikut menenangkan ibu.
“Iya, Bu. Ibu yang tabah ya,” kata bapak sambil memeluk Ibu. Meskipun di hati kecil bapak ikut menangis juga.
“Kapan operasinya, Dok?” tanya bapak.
“Semakin cepat, semakin baik. Ibu harus mempunyai kekuatan mental yang baik. Gimana, Bu? Ibu kuat kan?” tanya dokter.
“Iya, Dok. Saya mau operasi. Saya harus bisa sembuh. Anak saya masih kecil-kecil, Dok.” jawab Ibu sambil menangis.
28 Januari 2003
Jam 07.00
Detik-detik ibu dioperasi semakin dekat. Jam 9 pagi ibu dijadwalkan operasi. Seluruh keluarga ikut mengantarkan ke rumah sakit. Kami berharap dengan operasi itu, kankernya dapat diambil dan ibu sehat kembali. Sebelum dioperasi, keluargaku memberi semangat agar ibu lebih tenang.
Jam 09.00
Ibu dibawa masuk ke ruang operasi. Perasaan tegang mulai terasa. Gimana hasil operasinya nanti? Akankah berjalan lancar atau bahkan sebaliknya?
Jam 14.00
Lima jam ibu berada di ruang operasi.Jam 14.00 tepat, operasi selesai. Kanker yang ada dalam tubuh ibu dapat diambil. Tetapi ibu masih dalam keadaan tidak sadar karena efek obat bius yang masih ada.
“Alhamdulillah, kankernya sudah dapat diambil. Tetapi ibu sekarang masih dalam keadaan tidak sadar karna pengaruh obat bius. Setelah operasi ini, ibu harus kemoterapi 12 kali untuk menghilangkan bibit-bibit kanker yang masih ada dalam tubuh ibu,” kata dokter menjelaskan ke bapak.
“Ya, Dok. Terus, gimana dengan kesehatan istri saya? Apa kira-kira penyakitnya tidak akan kambuh lagi?
“Insya Allah, Pak. Kankernya tidak akan muncul lagi.” jawab dokter.” Ibu juga harus rutin kemoterapi agar penyakit itu tidak muncul lagi.”
Label: Cerpen, Menjelang Kepergian Ibu
MENJELANG KEPERGIAN IBU (Bagian 1)
24 Agustus 2002
Senja yang temaram. Setemaram keadaan keluargaku saat ini. Ibu sakit, perutnya membesar tanpa tahu apa yang ada di dalam perut ibu tersebut. Rumah sakit, dokter sudah angkat tangan. Tiap kali ibu dibawa ke dokter, dokter selalu menyatakan jika ibu tidak mengidap penyakit apapun. Rontsen normal, check up semuanya menunjukkan indikasi ibusehat. Keluarga sudah mengusahakan kesembuhan ibu, ibu sudah dibawa kemana saja. Di mana saja tempat yang diberitahukan orang sudah pernah kami datangi. Tapi ibu masih belum ada perkembangan.
“Dok, sebenarnya istri saya ini sakit apa? Tiap kali kita berobat, dokter slalu mengatakan klo dia tidak sakit,” tanya bapak pada dokter Rusman.
“Memang benar. Setelah saya periksa, ibu memang tidak mengidap penyakit apa-apa.”
“Bapak percaya tidak dengan ilmu santet?” tanya dokter tiba-tiba.
“Tidak, Dok. Memangnya knapa?” jawab bapak dan ibu.
“Begini ya Pak, Bu. Saya ini selain dapat mengetahui penyakit medis, saya juga mengetahui penyakit nonmedis. Sepertinya ibu ini terkena penyakit nonmedis. Namun, saya tidak tahu bagaimana menyembuhkan penyakit nonmedis tersebut. Ibu dan bapak yang sabar aja. Mungkin ini ujian dari Allah pada keluarga bapak.”
“Iya, Dok. Makasih. Tetangga kami juga pernah mengatakan seperti itu, Tapi, kami tidak percaya. Kami harus bagaimana, Dok?”
“Saya juga tidak tahu. Bapak pergi saja ke orang pintar atau kyai. Tetapi ada cara kuno, bapak siram aja tiap sudut rumah dengan air rendaman beras. Insya Allah, setannya akan menyingkir.”
“Makasih atas sarannya, Dok,” jawab bapak dan ibu.
18 November 2002
Terekam dengan sangat jelas peristiwa itu dalam memoriku. Ibu tiba-tiba pingsan setelah diruqyah. Kata orang Ibu diganggu orang (orang Jawa biasanya menyebut santet). Hal ini sama dengan dugaan dokter Rustam tentang penyakit ibu. Keluarga kami sebenarnya tidak percaya dengan ilmu santet tetapi karenahal itu terjadi pada Ibu, akhirnya keluarga kami percaya. Ibu dibaringkan di atas tempat tidur dikelilingi seluruh keluarga besarku. Ibu berbicara sendiri dengan mata tertutup tanpa jelas apa yang diomongkan. Ibu kesetanan, apa yang keluar dari mulut itu bukan dari ibu sendiri melainkan dari setan yang ada dalam diri ibu. Dari omongan ibu itulah akhirnya kami tahu siapa yang menyantet ibu. Orang yang menyantet Ibu adalah Parmi, tetanggaku yang selama ini juga dekat dengan ibu. Keluarga kami mengaji di sekeliling ibu.
“Sampeyan itu sebenarnya siapa? Apa salah Ibu pada sampeyan?” itulah pertanyaan pertama yang aku ajukan saat Ibu kesetanan.
“Aku bu Parmi. Ibumu itu tidak salah apa-apa. Klo aku gak lakukan ini, maka aku sendiri yang akan mati. Tiap tahun aku harus lakukan ini agar ilmuku meningkat,”jawab Ibu saat kesetanan.
“Sampeyan kok punya ilmu sepeerti ini?”
“Aku dulu belajar pada orang pintar, bapakku juga tukang santet.”
“Tapi knapa Ibu yang sampeyan santet? Ibu kan teman dekat sampeyan, teman curhat?”
“Karna ibumu orang beriman. Semakin tinggi iman orang yang aku jadikan korban, semakin tinggi pula ilmuku.” jawab setan itu tanpa menyesali perbuatannya.
Orang-orang di sekeliling ibu masih terus mengaji agar setannya cepat keluar.
“Sudah... sudah.... Kalian jangan ngaji lagi, huh... huh...,” rengek setan Parmi dengan suara yang kami pikir lebih tepatnya seperti suara anjing.
“Tapi sampeyan tidak buat Ibuku mati kan?” rengekku.
“Ha...ha...ha... kamu itu ada-ada saja. Yang dapat mencabut nyawa seseorang hanya malaikat, aku tidak berhak lakukan itu.”
“Knapa sampeyan gak kirim ilmu itu ke benda mati seperti pohon, binatang atau pada orang kafir?” tanya saudaraku.
“Klo aku nyantet pohon, binatang, atau bahkan pada orang kafir itu tidak mungkin. Itu sama saja aku nyantet kawanku sendiri. Aku harus nyantet orang yang ilmunya lebih tinggi dari aku,” jawab setan yang ada dalam tubuh ibu.
“Sudah berapa orang yang sudah sampeyan jadikan korban?”
“Sudah banyak. Tatangga-tetangga di gang ini sudah banyak yang jadi korban. Bu Bambang, Pak Sukimin, Pak Aziz, dan masih banyak lagi. Langganan tetapku itu ya keluarga Pak Aziz itu, ha... ha.... Salahnya sendiri ngapain ikut campur urusan keluargaku. Lihat aja anak perempuannya, sampai sekarang tidak laku kan?”
“Sampeyan kok jahat banget sich? Apa mereka semua punya salah sama sampeyan?”
“Selain tiap tahun aku harus korbankan satu tetanggaku, mereka juga punya salah. Bu Bambang misalnya. Dia curiga aku selingkung dengan suaminya. Siapa yang mau dengan lelaki tua seperti itu? Ya udah, aku buat bolong payudaranya, ha... ha....”
“Hai, diam. Siapa itu yang ngaji? Jangan ngaji lagi. Aku kepanasan, huh... huh...,” bentak setan yang berwujud ibu.
“Gimana cara sampeyan nyantet?” tanya tanteku.
“Aku lakukan itu jam 12 malam, dengan tidak memakai baju, alias telanjang. Aku ikatkan roh orang yang akan aku santet itu di atas loteng,” jawab setan Bu Parmi.
“Klo begitu malam ini sampeyan harus lepaskan ikatan itu.”
“Iya... iya.... Tapi kalian jangan ngaji lagi, aku kepanasan. Kalian diam semua,” bentak setan itu lagi.
Bapak yang sedari tadi hanya dengerin percakapan kami, akhirnya ikut bicara.
“Sampeyan malam ini juga harus keluar dari istriku. Klo sampeyan gak mau keluar, sampeyan aku tarik dengan tali yang besar mengelilingi kota ini biar semua teman suamimu yang pegawai negeri tahu,” ancam bapak.
“Iya... bentar lagi aku nyampek di Pasuruan. Aku sekarang masih ada di bis. Nanti klo aku dah turun dari becak, jangan sampai ada yang melihatku, aku malu. Juga jangan ada tetangga yang mengetahui peristiwa ini,” kata setan itu.
Bu Parmi dalam perjalanan pulang dari Surabaya.
Label: Cerpen, Menjelang Kepergian Ibu
Cerita Sebelumnya:
- Bintang di Langit Jogja (1)
- Bintang di Langit Jogja (2)
- Bintang di Langit Jogja (3)
- Bintang di Langit Jogja (4)
- Bintang di Langit Jogja (5)
BINTANG DI LANGIT JOGJA (Bagian 6)
Jogja, 2 Juli 2007
Azka ke rumah lagi dy. Aku terpaksa bohong lagi! Aku cerita kalo aku belakangan lg sibuk ma travellingku. Tapi aku emang bener2 sibuk persiapan perjalanan panjangku dy, menjemput maut. Kutahu dia semakin mendekat, tapi yang bisa kurasa adalah jiwaku yang menghangat oleh kedamaian yang tak kumengerti. Aku sekarang kemo tiap tiga hari dy! Rambutku rontok, makanya sekarang aku pelontos! Tapi tetep cantik...lihat deh fotoku..masih cakep kan???
Jogja, 17 Juli 2007
Semakin dekat dy, dia semakin dekat, mengaburkan bayang2 Azka, menjauhkanku dari Azka. Aku tak bisa dy, menghilangkannya dari pikiranku. Tapi aku menikmati proses ini. Aku menyukai ketika bayang2 kematian itu menghampiri. Dia tidak menyeramkan dy. Dia terasa hangat...Dia menjelma Rinjani. Aku ingin pergi ke Rinjani... Aku ingin merasakan indahnya Rinjani. Tapi itu tak mungkin lagi. Satu bulan lagi mereka berangkat, tanpa aku dy!Apa aku masih bisa mendengar cerita tentang Rinjani???
Jogja, 5 Agustus 2007
Azka datang melamarku. Tak mungkin aku menjawab”ya”. Karena waktu!! meskipun aku ingin..Dia terlihat kecewa dy, tapi aku juga lebih kecewa..
Jogja, 15 Agustus 2007
Aku berangkat ke RS sendiri. Aku benar-benar ingin sendiri. Omi tau alasanku, aku tak ingin Azka tahu..
Jogja, 29 Agustus 2007
Buat, Azka...
Maafkan aku Az, aku sudah menyakitimu. Itu karena aku tak ingin kamu terluka lebih...Saat kamu membaca ini mungkin aku udah pergi. Maafkan aku Az, bukan aku bermaksud gak jujur, bukan aku menutup-nutupi, aku hanya ingin menikmati masa-masa terakhirku...sendiri az. Aku mencintai kesendirian ini...Aku hanya ingin kamu tahu Az, aku merasakan juga apa yang kamu rasakan. Tapi sekali lagi aku tahu malaikat maut sudah di depan pintu. Kapan pun ia bisa membawaku. Entah kemana...Makanya, hari ini aku menuliskan ini untukmu Az! Karena besok aku tak tahu...
Liontin ini adalah sebuah tanda jika aku pernah ada Az. Seperti tulisanmu ketika memberikannya sebagai kado ulang tahunku.”Meski bintang tak terlihat, tapi dia selalu ada.” Aku ingin seperti bintang itu, tetap ada di hatimu sebagai sebuah kenangan masa lalu...
Lala
Tahlil telah selesai sejak dua jam lalu. 3 September 2007. Kau hembuskan nafas terakhirmu. Dan aku disini, di teras kamarmu, menikmati malam bersama catatanmu, La. Kamu masih tetap manis seperti biasanya La, meski tanpa rambut. Akhirnya menetes juga apa yang kutahan sejak dari tadi pagi. Maafkan aku La, yang tidak pernah mengerti dan memahamimu. Maafkan aku. Hanya ribuan doa yang mengiringi langkahmu. Semoga kau temukan damai itu. Aku akan tetap menjagamu La, seperti bintang yang menjaga malam dari kelam. Seperti arti namamu, di sini pancaran malam itu bersinar, di langit Jogja.
By: Rizki Nurrohmi
Label: Bintang di Langit Jogja, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
- Bintang di Langit Jogja (1)
- Bintang di Langit Jogja (2)
- Bintang di Langit Jogja (3)
- Bintang di Langit Jogja (4)
BINTANG DI LANGIT JOGJA (Bagian 5)
Jogja, 13 September 2006
Dy, hari ini rumah sebelah ada yang nempati. Aku gak suka ma orangnya. Nyebelin banget, SKSD gitu deh....Omi seneng banget tuh, masa dari tadi yang diomongin itu, siapa ya, aku lupa namanya, Saka, taka, pokoknya ada ka ka nya!
Jogja, 20 September 2006
Dy, kayaknya malapetaka dtg, si Azka tiap hari maen ke rmh. Numpang makan!Gak sopan bgt gt!Omi malah kesenengen tuh!mentang-mentang baru dapat anak. Kenapa sih, mas Fajar gak pulang-pulang??rumah dah jadi neraka..
Jogja, 3 November 2006
Dy, mas Fajar pulang. Seneng bgt!Tapi si Azka tu nyebelin poll!!Mas fajar lagsung akrab gt deh!Mungkin semua orang kena pelet ma dia. Azka juga udah berani tlp2 mbak Laras. Si Azka jelekk..nyebelin...!!Dasar anak mami!!
Malang, 15 Desember 2006
Dy, Arjuna dingin banget!!Gila, aku pe’ beku!tapi seneng, gak ketemu Azka! terasa di surga!hehe...dah dulu, aku mo gabung ma temen2!! Api unggun ky’x bikin anget deh!!hmm...
Jogja, 18 Desember 2006
Cape’ banget dy, pe muntah darah. Kecapean kalee...!!Si anak mami muncul lagi!!cuekin aja!!lebih asyik maen game, baca buku, atau bersihin alat camping!!persiapan ke Rinjani!!Yess!!rencana Agustus!masih 6 bulan lagi.
Jogja, 24 Januari 2007
Congratulation!!Happy birthday to me!! Seharian nyepi di Kaliurang. Menghindar dari kejaran perploncoan. Tapi tetep aja kena!Pulang belepotan!Surprise, dapet peralatan camping baru dari Omi, mas Fajar, dan mbak Laras. Thanks poll!Seneng, Si anak mami tak menampakkan diri.
Jogja, 25 Januari 2007 00.00 wib
Ancritt!!!Si anak mami cari masalah lagi. Malem-malem bangunin orang!!GAK SOPAN!!aku dikasih liontin berbandul bintang, lumayan! Lanjutin tidur lagi...
Jogja, 26 Januari 2007
Terpaksa banget tadi nganter kue ke rumah si anak mami. Lumayan rapi sih rumahnya. Tau gak sih..ternyata dia MANTAN anak PALA juga! Gak nyangka banget deh...!Fotonya di puncak Jaya OKs banget! Aku juga lihat foto-fotonya yang laen juga! Kenapa tiba2 aja dia nyambung diajak bicara ya?? Asyik juga anaknya!! Terlihat smart! Baru hari ini juga aku sadar, dia tu sebenernya cakep lo! dapet 9!eh, ketinggian!8 aja!!Kok aku jadi ngomongin dia????
Jogja, 15 Februari 2007
Dy, hari ini aku ngajak dia ke base camp!! Temen2 cepet akrab ma dia!!lumayan tuh anak mami!!gak malu-maluin. Habis dari base camp, aku ngajak dia jalan2 ke Borobudur, ngabisin waktu pe’ sore!
Jogja, 3 Maret 2007
Lama banget gak naek dy, badan jadi pegel2, akhirnya ngajak jalan Si Azka ke Kaliurang. Kapokk tuh orang tak ajak jalan pek kakinya keriting. Tapi dia gak ngeluh, malah keliatan seneng! Aku juga ngerasa seneng dy bisa jalan ma dia. Dia cowok yang tau gimana memperlakukan cewek!!Dia juga orang yang care dan menyenangkan!
Jogja, 1 April 2007
Hari ini jalan lagi ma Azka, tanpa Omi, tanpa temen2, ke kali codek lagi, ngopi!! Ini ketiga kalinya aku ke kali codek ma dia!berdua!!kenapa aku ngerasa gak nyaman ya dy?? Kepalaku sakit lagi!!sakit banget dy. Mungkin kebanyakan maen. Aku mo ujian skripsi dy. Persiapan neh...
Jogja, 18 April 2007
Ujian skripsi yang menegangkan dy, aku dihabisi ma dosen penguji. Tapi aku bisa membuktikan semua dy. Pulang pingsan!masuk rumah sakit!mungkin kecapean...
Jangan sampai Omi tau...!Azka udah aku suruh tutup mulut!awas kalo bocor!!!
Jogja, 25 April 2007
Azka sibuk terus dy! Jarang pulang! Aku jadi kangen banget ma dia! Aku gak tau apa yang aku rasain dy. Dia sudah mengisi hari2ku penuh warna. Dia orang yang penuh kejutan dy! Aku udah kebiasaan tiap hari ketemu. Tapi aku dah gak ketemu dia 1minggu!!lama bgt rasanya!!Aku sakit kepala lagi.
Jogja, 3 Mei 2007
Dy, hr ni aq dpt panggilan ke RS.Kata dokter Han, teman sekolah Omi dulu, aku mengidap kanker otak dy, stadium 4, kecil kemungkinan untuk sembuh. Waktuku maksimal 1thn. Tapi aku gak nangis dy, aku gak takut. Semua orang pasti mati kan dy??Aku lebih takut Omi tahu dy, mas Fajar, mbak Laras, dan...Azka!! Aku bersyukur Azka sibuk dengan kerjanya. Itu memberiku kesempatan untuk membunuh rasa ini sebelum aku benar-benar terbunuh oleh penyakitku.tapi aku gak nyerah. Aku langsung mulai kemo dy!
Jogja, 15 Mei 2007
Akhirnya Omi tau dy. Omi nangis terus! Untung Azka gak ada!!
Label: Bintang di Langit Jogja, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
BINTANG DI LANGIT JOGJA (Bagian 4)
Kini semua aku mulai lagi dari awal. Tiga minggu sudah aku di Bandung. Melalui detik-detik dengan cepat, disibukkan dengan segudang kerjaan kantor yang menumpuk, dan puluhan meter janji meeting dengan klien. Saat ini pun aku sedang pusing oleh rancang bangun yang sedang aku persiapkan menghadapi peperangan tender untuk besok.
And i will take u in my arm and hold u right where u belong
every word i say is true this i promise u..this i promise u..
Dering Hpku berbunyi sejak tadi, paling dari Bunda yang akan memarahiku lagi. Jadi aku mengabaikannya. Tapi Hpku tak mau berhenti, akhirnya aku beranjak dari dudukku mengambil Hp yang ku geletakkan di meja. Nomor rumah Lala. Ada tanya dalam hatiku. Dadaku bergetar hebat. Ku angkat Hpku.” Assalamualaikum” sapa seorang lelaki di ujung sana yang ku tebak pastilah mas Fajar. Karena aku sangat kenal suaranya yang bariton. Ada kelegaan yang kurasa karena bukan Lala.
“Waalaikumsalam, mas Fajar. Lho kok di Jogja? kapan nyampe? Kok nggak kasih kabar?” tanyaku.
“Aku udah satu minggu di Jogja,” suaranya bergetar aneh.
“Gimana kabar semua?” kucoba menetralisir sesuatu aneh yang aku rasa.
“Semua sehat. Kecuali Lala, Az,”jawabnya lemah.
Degup jantungku berdetak lebih cepat. Ada keresahan yang sulit kucerna maknanya. Aku menahan nafasku. Berbarengan dengan itu mas Fajar bilang,
“Lala udah pergi Az, pergi untuk selamanya. Dia meninggal satu jam yang lalu.”
Seperti petir di pagi buta.Aku merasa tersengat listrik ribuan watt mendengarnya, beberapa waktu aku sempat kehilangan keseimbangan hingga harus bertumpu pada kursi. Badanku lemas seketika. Tapi aku masih bisa menguasai kesadaranku.
“Aku ke sana mas,” ucapku yang mungkin lebih tertuju pada diriku.
Aku menutup telepon. Aku menghubungi mas Ari menceritakan semuanya. Ku suruh Vanty memesan tiket pesawat ke Jogja untuk penerbangan siang ini. Dia mendapatkannya. Aku segera pulang dan mengemasi barang-barang secukupnya untuk menginap dua atau tiga hari. Begitu selesai kudengar klakson mobil dibunyikan, mas Ari sudah berteriak dari luar. Buru-buru aku mengunci pintu dan masuk mobilnya. Selama perjalanan Bandung-Jakarta kami membisu. Pikiranku berlarian kian kemari. Mungkin mas Ari juga. Sesampainya di bandara aku segera mengambil langkah seribu. Pesawat take-off lima belas menit lagi.
Setengah tergesa aku mengambil tiketku dan berlari menuju pesawat. Aku duduk tanpa ketenangan sedikit pun. Sampai di Jogja pukul empat sore. Aku langsung menuju pemakaman. Ada perasaan aneh yang menjalar. Ada duka yang menggenggam erat jiwa. Ada airmata yang menetes di hati menyesakkan nafas dan membuatku tak percaya. Aku hanya mampu diam, diam, dan diam.
Aku sampai di pemakaman ketika jasadnya yang terbungkus kafan putih dimasukkan ke liang lahat. Kurasakan keheningan yang pekat. Perlahan aku mendekat, memeluk Omi yang mencoba untuk tabah. Meski airmatanya mengalir, Omi tetap tenang, malahan mbak Laras yang menangis terisak-isak dipelukan suaminya. Setelah semua prosesi pemakaman selesai, satu persatu pelayat meninggalkan pemakaman. Sekarang tinggal Omi dan aku yang terpekur di tepi gundukan tanah merah. Dan akhirnya, Omi pun meninggalkan aku sendiri.
Aku memandangi tanah merah itu. Yang menenggelamkan jasadmu dalam kesendirian panjang. Ya Allah...inikah jawaban dari sujud-sujud panjangku?? Engkau lebih menginginkannya dari aku?? Ku sentuh nisan putih itu. Dimana terukir namamu La. Ada kemarahan padamu, ada seribu tanya yang belum kau jawab. Mengapa kau pergi begitu saja tanpa memberikan satu pun alasan! Ataukah ini alasanmu La?? Ku tarik nafas panjang. Kemarahanku padamu luruh sudah La. Tapi mengapa?? Mengapa La?? Mengapa kamu tak pernah jujur padaku?? Apakah mungkin karena aku terlalu merasa mengenalmu?? Aku tetap tak bisa tenang La. Tahukah kau seberapa besar luka itu?? Aku disini, bukan untuk menggugat apa yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu jawabanmu. Tapi tak mungkin kau mau menjawabnya. Kau hanya bisa diam La. Diam untuk selamanya. Seseorang menyentuh pundakku, Omi.
“Nak Azka, ini buku harian dan liontin yang dititipkan Lala ke Omi sebelum dia koma dan akhirnya pergi untuk selamanya. Omi diminta untuk memberikannya ke nak Azka.” Kata Omi sambil menyerahkan sebuah diary berwarna merah dan liontin berbandul bintang yang dulu aku berikan kepada Lala. Aku bangkit dan menerimanya dengan tangan gemetar. Lalu aku mengiringi Omi berjalan meninggalkan pelataran pemakaman.
Label: Bintang di Langit Jogja, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
BINTANG DI LANGIT JOGJA (Bagian 3)
Pertengahan April dia wisuda dengan predikat cumlaude. Ya, dia memang gadis yang cerdas. Aku sempat khawatir bukan main ketika tiba-tiba dia pingsan saat akan pulang. Kami membawanya ke RS terdekat. Aku meminta dokter untuk melakukan check up secara menyeluruh. Tapi kata dokter mungkin hanya kecapean dan hasil pemeriksaan laboratorium baru keluar sepuluh hari lagi. Aku lega. Dia pulang dengan wajah gembira. Menceritakan rencananya untuk mendaki Rinjani dengan kawan-kawannya. Kulihat dia baik-baik saja, hanya terlihat lelah.
Setelah kejadian wisuda itu, aku sibuk sekali mengatur jadwal. Hanya sesekali saja aku berkunjung. Karena aku lebih sering di lokasi dari pada di rumah. Ketika aku kembali, tiba-tiba kulihat semua sudah berubah. Lala sering terlihat murung, meskipun tidak mengurangi bicara dan tawanya, terutama jika ada di dekatku. Dia semakin sering berlibur, tapi tak pernah mau mengatakan tujuannya. Dia terlihat pucat dan kurus, mungkin karena terlalu sering mengadakan perjalanan jauh. Pertengahan Juli aku mendapat panggilan dari kantor pusat untuk kembali ke Bandung karena ada keadaan sedikit gawat. Aku semakin sibuk dengan pekerjaan yang semakin menumpuk.
Awal Agustus aku menyatakan perasaanku padanya, sekaligus mengatakan aku akan ditarik ke kantor pusat lagi. Dengan semua kebersamaan yang telah aku lalui bersamanya, aku yakin dia tidak akan menolak pinanganku. Karena aku tahu dengan pasti perasaannya padaku. Tapi yang terjadi justru di luar perkiraanku, dia hanya diam dan mengatakan,” Aku tidak keberatan dengan kepergianmu Az.” Tentang pinanganku dia sama sekali tidak berkomentar, tidak memberi jawaban.Yang dia inginkan hanya mewujudkan impiannya mendaki Rinjani. Bahkan ia mengatakan akan berangkat sepuluh hari lagi yang berarti tiga hari sebelum keberangkatanku. Aku tahu mungkin itu sebuah penolakan untukku.
Hari-hari menjelang keberangkatanku dia tetap bercanda seperti biasanya, tertawa sepeti biasanya, bahkan sikapnya denganku juga seperti biasanya, tidak berubah sedikit pun dan juga tidak menyinggung tentang pinanganku. Dan ketika dia berpamitan untuk berangkat ke Rinjani dia meminta maaf padaku. Dia tidak ingin aku mengantarkannya ke Bandara.
“Thanks Az buat semuanya. Jaga diri baik-baik. Sukses ya...” itu kata terakhir yang kudengar darinya. Dan karena itu semua, aku sekarang berada di sini. Di atas kereta api yang akan membawaku ke Bandung, menjauh darinya.
Bandung pukul 02.00 di tengah guyuran hujan, mas Ari menjemputku dan kami langsung menuju rumahnya di Jalan Suprapto. Aku hanya istirahat beberapa jam dan paginya kami langsung menuju kantor untuk rapat direksi dan pengangkatanku menjadi wakil direktur operasional yang baru. Hari ini aku lelah sekali. Aku menelepon Omi menanyakan kabar Lala, Omi hanya berkata semua baik-baik saja. Baru saja aku menutup telepon ketika tiba-tiba mas Ari muncul.
“Malem-malem nglamun. Nglamunin siapa Az? Lala lagi? Udah, tenang aja, kalo jodoh gak akan kemana-kemana.” mas Ari mengejekku dengan candaan yang menurutku nggak lucu. Ku pukul dia dan dia balas memukul. Akhirnya kami saling memukul dan tertawa bersama dalam nafas yang tinggal satu-satu.
“Eh, kamu dicari Bunda tuh, kangen katanya, malahan sempat dikatain anak durhaka segala,” kata mas Ari sambil mempraktekkan gaya bicara Bunda. Aku tertawa keras, kuambil handphoneku, dan ku tekan nomor telepon Bunda. Tut...tutt...tuuttt.” Assalamualaikum.” sapa Bunda dari ujung telepon di sana.
“Waalaikumsalam Bundaku tercinta,”
“Duh Gusti...kamu tuh bener-bener keterlaluan Le! Masa pulang ke rumah masmu, memangnya kamu sudah lupa jalan ke rumah orang tuamu?” kata Bunda emosi. Belum-belum sudah diomeli. Tapi aku hanya cekikikan mendengar Bunda mengucapkan kalimat itu dengan logat jawa yang khas.
“Maaf Bunda, urusan di kantor sangat banyak, dan saya harus belajar banyak dari mas Ari.” kilahku.
“Oooo....jadi urusan kantor lebih penting dari Ayah dan Bundamu?? Keterlaluan Le, kamu itu benar-benar keterlaluan,” sahut Bunda.
Mati aku, salah ngomong.” Bukan begitu Bu...”
“Kamu itu kok sudah seperti kehilangan sopan-santun to Le, Bundamu ini mendidikmu supaya kamu menjadi anak yang berbakti dan tau sopan santun. Jangan seenaknya sendiri. Hidup ini ada aturannya Le,” sela Bunda.
Mati aku, kalo udah kaya gini apa pun yang aku katakan pasti salah. Bisa-bisa semua jadi runyam. Dan aku hanya mampu mengeluarkan jurus pamungkasku.
“Maaf Bunda, Azka tau Azka salah, besok saya akan mampir ke rumah. Saya seperti ini bukan karena ndak sayang sama Bunda dan Ayah. Inikan juga untuk terus melangsungkan usaha keluarga Bu. Bagaimana perusahaan bisa maju jika karyawannya tidak loyal?” Hehe...Bunda pasti akan terpengaruh dan berhenti memarahiku.
“Ya sudah, terserah apa katamu lah. Yang penting kamu bisa jaga diri” kata Bunda pasrah.
“Beres Bunda, i love u Bundaku. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam” jawab Bunda dan kudengar telepon dimatikan.
Pfuhh...akhirnya aku dapat bernafas lega lepas dari kemarahan Bunda. Mas Ari hanya geleng-geleng dan menjitak kepalaku lalu pergi begitu saja.
Label: Bintang di Langit Jogja, Cerpen