So Aja

Baca online: cerpen, puisi, naskah drama, surat

0 Komentar 29/06/13 | @ 11.08

Cerita Sebelumnya:


AKHIR SEBUAH PERAN (Bagian 4)

Hingga beberapa hari Ami tidak mau keluar kamar bahkan untuk makan sekalipun. Orang-orang rumahnya sampai kewalahan membujuk Ami. Makanan yang diantar ke kamarnya juga tak tersentuh. Ami yang terlihat begitu tegar di depan Andi ternyata sangat rapuh. Hatinya benar-benar hancur menjadi kepingan-kepingan yang sangat sulit untuk dijadikan utuh lagi. Sore ini ia kembali menangis sekeras-kerasnya. Hal yang paling membuatnya sedih adalah Sally, ketidakpercayaannya pada Sally, prasangka buruknya pada sahabat baiknya, tuduhan-tuduhan kasarnya, semuanya membuatnya muak pada dirinya sendiri. Ia merasa kesalahannya pada Sally tidak lagi dapat dimaafkan. Ami semakin tidak bisa mengendalikan emosinya, dia banting semua pemberian Andi. Ia muntahkan kenangan-kenangan manisnya bersama Andi yang hanya berlangsung belasan hari itu lewat sumpah serapahnya.

Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk. Ami segera menyusup air matanya, tapi tak juga beranjak dari posisinya yang telungkup.” Mi, boleh aku masuk?” tanya pengetuk suara yang ternyata Sally. Ami terperanjat mendengar suara itu. Ia tidak menyangka Sally masih mau datang ke rumahnya.” Eh, kamu Sall, boleh, masuk aja!” kata Ami sambil bangun dan menyunggingkan senyum yang hambar karena ada rasa sangsi di hatinya Sally datang sebagai sahabat, bukan musuh yang dendam.” Kamu masih marah?” tanya Sally begitu mereka berhadapan. Sally duduk di sebelah Ami, di atas kasur yang lusuh dan pulau-pulau air mata yang terbentang di atasnya. Ami agak risih dan malu. Ami juga kaget mendengar pertanyaan itu, apa ia tidak salah dengar, seharusnya ia yang bertanya seperti itu. Ami kembali menangis,” Nggak Sall, kamu yang seharusnya marah padaku! Aku sudah tidak mempercayaimu, sahabatku sendiri, dan aku juga telah menuduhmu dengan keji. Aku nggak pantas disebut sahabat Sall! Maki-maki saja aku! Kamu jangan bersikap seperti ini, ini malah membuatku semakin merasa bersalah!” katanya dalam isak. Sally segera memeluk Ami,” Aku nggak pernah bisa marah sama kamu Mi, kamu sudah kuanggap saudara kandung sendiri”.

“Ternyata aku begitu bodoh Sall. Aku malah mempercayai buaya seperti dia. Aku mengkhianati persahabatanku demi buaya. Aku nggak layak dimaafin, jangan maafin aku Sall, aku mohon!” Ami mencoba melepaskan pelukan Sally, tapi pelukan itu malah semakin kuat.” Nggak Mi, jangan ngomong gitu! Kamu nggak bodoh, Andi aja yang brengsek. Bukan kamu aja korbannya. Dan aku nggak mau gara-gara masalah seperti ini persahabatan kita hancur. Aku dan kamu tetap sahabat seperti dulu”. Sally melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Ami dengan tangannya sendiri.” Udah, jangan nangis terus! Eh, kamu tahu nggak, waktu pulang dari sini setelah kejadian itu , aku ngikutin Andi lho. Setelah tahu tempat-tempat dia biasa nongkrong, dari situ aku selidiki dia,” Ami menyusut air matanya yang masih tersisa, ia mulai fokus pada cerita Sally,” dari situ pula aku tahu dia punya banyak cewek . Andi pandai mengatur jadwal biar nggak bentrok. Ya udah, aku kasih tau aja ke semua ceweknya kalau Andi itu playboy. Uh, aku seneng banget, mereka semua berhasil mergoki Andi ma cewek lain. Otomatis deh, dia diputusin ma cewek-ceweknya”.” Oh ya? Rasain tuh!” jawab Ami, ada binar kemenangan di matanya.” Jadi, kita tetap sahabat kayak dulu nih?” tanya Ami.” Emang mau sahabatan kayak gimana lagi? Mau lebih erat? Boleh!” jawab Sally kembali memeluk Ami, menyalurkan hangat persahabatan mengaliri hati dan raga. Kedua sahabat itu akhirnya beruarai dalam tawa. Sore yang cerah mengiringi cerah hati keduanya. Menuntaskan cerita cinta palsu dan duka karenanya. Sang waktu mengakhiri peran sang aktor laga dan mengubur kisahnya dalam kisah baru yang kini mulai ditulis dalam kertas yang baru pula.

* * * * *
T A M A T

By: Lilis Anifiah Zulfa

Label: ,