So Aja

Baca online: cerpen, puisi, naskah drama, surat

0 Komentar 15/06/13 | @ 10.00

Cerita sebelumnya:


Dilema Cinta (6)

Pukul 8 pagi aku baru bangun. Hari ini aku ada kuliah jam 10, jadi aku bisa sedikit bersantai. Kulihat 3 pesan di HPku. Pesan itu dari Amel. Rupanya semalam Amel tidak bisa tidur memikirkan masalah ini. Amel khawatir dengan keadaanku. Aku ingin membalas sms-nya, tapi aku merasa bersalah pada Amel. Aku terpaksa berbohong padanya. Kubilang aku baik-baik saja dan orang tuaku tidak memarahiku. Aku tak ingin membuatnya sedih.

Setelah pulang kuliah, aku menemui teman baikku. Aku sudah tidak tahan menyimpan masalahku ini. Kuceritakan semua masalahku pada Desta. Desta ikut sedih mendengar masalahku ini. Dia mencoba untuk menghiburku. Tapi kali ini dia tidak mengajakku ke rumah temannya dulu. Sekarang dia tidak pernah lagi mengkonsumsi barang-barang haram itu. Dia sudah jera, karena tiga bulan yang lalu dia hampir overdosis. Desta hanya berkata agar aku tidak salah pilih.

“Mungkin sebaiknya kali ini kamu menuruti apa kata ayahmu Ga. Apa kamu mau melihat bundamu sedih? Kamu tahu sendirikan bagaimana sikap ayahmu? Kalau kamu memilih Amel, kamu akan diusir dari rumah. Kalau kamu pergi dari rumah, bagaimana dengan hidupmu nanti? Bagaimana caramu untuk menghidupi Amel? Kamu sayang Amel kan? Kamu tidak ingin kan melihat Amel hidup susah bersamamu? Cinta tak harus memiliki Ga. Kalau kalian berjodoh, pasti kalian akan bersatu lagi.”

Itu kata-kata yang di ucapkan Desta padaku. Sekarang dia memang sudah berubah. Dia sudah bisa lebih dewasa. Mungkin benar apa yang dikatakana Desta. Aku harus meninggalkan Amel. Ini pilihan yang terbaik bagi semuanya. Aku harus bisa bersikap tegas. Aku tidak ingin Amel terus berharap padaku.

Akhir pekan ini aku mengajak Amel makan malam. Aku mencoba menguatkan hatiku. Jujur, aku tidak sanggup untuk berpisah dengan Amel. Aku masih sayang dia. Selamanya dia kan selalu ada dihatiku.

Kami berdua pergi ke tempat yang sering kami kunjungi. Tempat ini banyak menyimpan kenangan kami. Setahun yang lalu, aku menaruh seikat mawar merah di meja ini dan kukatakana kalau aku sayang dia. Aku masih ingat saat itu dia sangat malu padaku, wajahnya memerah seperti tomat. Ah…. Itu semua sekarang tinggal menjadi kenangan. Di tempat ini juga, aku ingin berterus terang pada Amel.

“Mel”

“iya Ga! Ada apa?” Amel menghentikan makannya dan menatapku dengan senyum polosnya. Aku menjadi tidak tega untuk mengatakannya.

“Kamu kenapa kok jadi bengong? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?” Amel membangunkan lamunanku.

“Mel, kamu tahukan, kedua orang tuaku tudak begitu senang dengan hubungan kita.”

“Iya Ga, Amel tahu. Amel juga tidak tahu harus bersikap bagaimana agar ayah dan bunda Ega bisa merestui hubungan kita.”

“Mungkin sebaiknya kita berpisah Mel!” Aku tidak berani menatap wajahnya.

“Apa? Ega bercanda kan?” Amel masih tidak percaya dengan apa yang kukatakan.

“Aku tak bercanda Mel. Mungkin sebaiknya kita memang berpisah”

“Tapi dulu Ega pernah berjanji tidak akan meninggalkan Amel. Kenapa Ega tidak menepati janji?” kulihat ada air mata yang menetes dipipimya. Aku semakin tidak tega melihatnya dan aku semakin merasa bersalah.

“Mel, kamu tahu kan bagaimana sifat orang tuaku. Aku tidak ingin membuat bunda sedih. Aku harap kamu mau mengerti Mel.”

Amel hanya mengangguk sambil megusap air matanya. Aku tahu Amel masih sulit menerima kenyataan ini. Aku pun juga masih sulit untuk menerima ini semua. Setelah Amel berhenti menangis, aku mengantarkannya pulang. Setibanya di depan rumahnya, Amel segera turun dari mobilku dan cepat-cepat masuk ke rumahnya tanpa berkata apa-apa.

“Mel!” aku berteriak memanggilnya, aku hanya ingin melihat wajahnya untuk yang terkhir kalinya. Amel menghentikan langkanya dan menoleh padaku.

“AKU SAYANG KAMU AMELIA” ku katakan isi hatiku padanya dengan menahan air mata dan rasa sedih. Amel hanya tersenyum sambil menangis. Dia tak membalas ucapanku. Dia langsung berlari masuk rumahnya.

Aku tahu, saat ini Amel pasti sedih. Saat ini pasti dia sedang menagis di kamarnya sambil memeluk beardy, boneka beruang yang pernah aku hadiahkan disaat dia ulang tahun. Amel, aku masih sayang kamu. Maafkan aku……

* * * * *

Lima tahun ini kulalui hari-hariku tanpa Amel disampingku. Memang berat rasanya, tapi aku harus bisa menjalaninya. Aku juga sudah menjalin hubungan dengan wanita lain. Dia adalah Cindy, teman kuliahku. Ayah Cindy adalah rekan bisnis ayah, karena itu kedua orang tua kami merestui hubunganku.

Cindy memang tak kalah cantik dengan Amel, tubuhnya yang ideal dan kulitnya yang putih bersih membuat dia kelihatan cantik. Setiap minggu dia tidak pernah absen untuk pergi ke salon. Dia memang selalu menjaga penampilannya. Baju yang dia pakai juga tak pernah ketinggalan mode. Cindy memang idaman setiap laki-laki. Tapi entah kenapa dia masih belum bisa menggantikan posisi Amel di hatiku. Aku masih sering membayangkan Amel. Sekarang dia bagaimana ya? Apa dia juga sudah mendapatkan penggantiku?

“Ga, kamu sedang melamun ya? melamun apa sih?” Aku kaget mendengar teguran Cindy. Aku lupa kalau saat ini aku sedang makan siang bersamanya.

“Ah tidak, aku hanya teringat dengan masa laluku”

“Memangnya tentang hal apa, sampai membuatmu tak menghiraukannku?”

“Sudalah, tidak usah dibahas. Waktu makan siang juga sudah lewat, sebaiknya kita cepat-cepat ke kantor.” Candy menganggukan kepalanya dan berdiri menghampiriku sambil menggandeng tanganku.

Kami memang bekerja dalam satu perusahaan. Aku meneruskan bisnis ayahku dan dia mendapat rekomendasi dari ayahnya untuk bekerja di perusahaan kami. Alasan mereka, agar kami bisa sering bersama dan semakin dekat. Cindy memang cantik, tapi dia terlalu manja. Itu yang tidak aku suka dari dia.

Seminggu lagi kami akan bertunangan. Mama Cindy, bunda, dan Cindy sibuk mempersiapkan acara pertunangan kami. Mama Cindy sibuk memilih makanan yang akan disajikan, bunda sibuk memilih dekorasi yang akan dipakai dalam acara nanti, sedangkan Cindy sibuk memilih gaun yang akan dia kenakan. Semuanya serba sibuk.

Aku tak tahu, apa aku harus bahagia atau bersedih? Bayangan Amel masih sering muncul dan entah kenapa akhir-akhir ini aku sering memimpikannya. Aku rindu dengannya. Aku ingin bisa bertemu lagi dengan Amel.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,