So Aja

Baca online: cerpen, puisi, naskah drama, surat

0 Komentar 15/06/13 | @ 09.48

Dilema Cinta (1)

Pagi yang cerah. Burung-burung berkicau begitu merdunya. Desir angin yang melambaikan daun di halaman rumahku dan tetesan embun dari pucuk daun, menambah kesejukan di pagi ini. Betapa besarnya anugrah Tuhan dan betapa indahnya dunia ini. Terasa damai dan tenang……

Tapi keindahan dan kedamainan ini hanya semu bagiku. Aku tak pernah merasakan kedamaian dalam hidupku. Hari-hari yang kulalui begitu kelabu, mendung, penuh dengan hujan dan petir yang menyambar. Ya…. Setidaknya itu yang kurasakan sekarang.

Setiap hari aku selalu melihat pertengkaran kedua orang tuaku. Mungkin aku memang sudah ditakdirkan untuk hidup dalam keluarga seperti ini. Aku selalu melihat ayahku memukul bunda tanpa sebab yang jelas. Aku ingin membrontak dan melindungi bunda. Bahkan ingin sekali aku menghajar ayah sampai tulang-tulangnya remuk, tapi aku tak bisa. Aku terlalu pengecut dan pecundang yang tidak berani melawan kekejaman ayahku. Aku tidak bisa melindungi bunda. Aku hanya bisa diam melihat bunda dipikul.

Dulu aku pernah melihat ayah memukul bunda dan aku mencoba membela bunda, tapi tamparan keras yang akhirnya aku terima. Sakit rasanya, tapi jauh lebih sakit hati ini. Aku tidak berani melawan ayah. Bunda juga melarangku untuk melawan ayah. Bagaimanapun juga dia adalah ayahku dan aku harus menghormatinya, walaupun sebenarnya dia tidak pantas untuk aku dihormati. Aku tak ingin membuat hati bunda sedih. Aku ingin membahagiakan bunda……

“Ega,cepetan turun. Sarapan dulu Nak! Ini sudah jam berapa? Nanti kamu telat sayang” Suara bunda membuyarkan lamunanku.

Tak terasa sudah hampir jam 7. Lama juga aku berdiri dan melamun di samping jendela kamarku. Cepat-cepat aku mengambil tas sekolahku dan menuruni anak tangga. Kulihat bunda dan bibi sedang sibuk menyiapakan makanan di atas meja dan menatanya semenarik mungkin. Aku sudah tak sabar untuk melahap semua makanan yang ada.

“Hemm… baunya harum, pasti lezat! Sapa dulu dong yang masak, BUNDA!”

“Ah, kamu ini pintar merayu ya! Tapi jangan harap bunda akan menambah uang sakumu” aku hanya bisa tersenyum pada bunda dan segera kuambil piring di depanku.

“Bunda! Dimana kau taruh dasi ayah?” teriak ayah, dan bunda cepat-cepat pergi ke kamar untuk mencarikan dasi kesayangan ayah.

“Maap yah, bunda lupa. Dasi ayah tadi baru dicuci bibi dan sekarang masih belum kering”

“Apa kamu bilang? Masih belum kering! Kenapa baru cuci sekarang?!”

“Maap yah!”

“Maap-maap! Apa saja yang kamu kerjakan di rumah? Kamu selalu membuat aku kesal!” Ayah mendorong bunda sampai jatuh ke lantai dan ayah buru-buru pergi ke kantor tanpa menghiraukan bunda yang terjatuh.

Pagi ini aku melihat lagi air mata bunda. Aku melihat bunda sedang menyapu air matanya yang menetes. Bunda selalu berusaha tegar menghadapi hidup ini. Hatiku menangis melihatnya. Selera makanku jadi hilang karena pemandangan ini. Buru-buru aku pergi ke sekolah tanpa berpamitan pada bunda, karena aku tahu saat ini bunda tak ingin diganggu.

* * * * *

Di sekolahku sekarang memang sudah tidak ada pelajaran, karena kami sudah selesai UAN. Walaupun begitu, kami masih diwajibkan ke sekolah sampai pengumuman kelulusan. Hatiku masih kacau karena teringat kejadian tadi pagi. Aku sudah bosan dan lelah dengan semua ini.

“Hai Ga! Ngapain kamu bengong sendirian di sini?” Desta menepuk bahuku dan membuyarkan semua lamunanku.

“Ah, kamu Des! Bikin orang kaget aja.”

“Memangnya kamu kenapa? Lagi ada masalah ya?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Jangan bohong deh! Orang tuamu bertengkar lagi ya?”

Aku hanya bisa menganggukan kepalaku.

“Sabar aja guys, nggak usah terlalu kamu pikirin. Ntar sepulang sekolah kamu ikut aku aja”

“Memangnya kamu mau mengajak aku kemana?”

“Udah ikut aja, ntar juga tahu. Aku jamin semua masalahmu bisa hilang” Desta meninggalkanku sendirian tanpa berkata apa-apa lagi.

Aku sudah mengenal Desta sejak kecil. Rumahnya memang tak begitu jauh dari rumahku. Bisa dibilang dia adalah teman dekatku. Dia berbeda sekali dengan aku, dia jarang mengeluh dan hampir aku tak pernah melihatnya mengeluh. Tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang hitam tak membuat dia jadi minder bila berjalan didekatku.

Sepulang sekolah dia mengajakku ke tempat yang asing bagiku. Kami memasuki sebuah rumah yang tak begitu besar dan seperti tidak terawat. Kami berdua disambut dengan ramah, tampaknya Desta sudah begitu mengenalnya, dia begitu akrab berbicara dengan sahabatku. Aku tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, mereka tampak serius berbicara. Tak lama kemudian mereka menghampiriku dan mengajakku ke ruang tengah. Aku tak percaya dengan yang ku lihat. Dia memberi Desta sesuatu, semacam serbuk putih ,mirip dengan tepung yang biasa bunda masak dan Desta memberi selembar uang lima puluh ribu pada lelaki itu. Setelah itu mereka saling merangkul dan kami berpamitan pulang.

Setibanya di rumah, kami langsung menuju kamarku. Tanpa basa-basi lagi Desta langsung berbaring di atas tempat tidurku. Aku masih penasaran dengan semua yang kualami tadi. Sambil berganti baju aku bertanya kepada Desta tentang semua yang terjadi tadi. Aku terkejut mendengar penjelasan Desta. Aku baru tahu kalau serbuk putih tadi adalah putau.

Aku tak pernah menyangka kalau selama ini sahabatku sering mengkonsumsi barang haram itu. Setiap ada masalah Desta tak pernah mengeluh padaku, ternyata serbuk inilah yang membuat Desta melupakan semua masalahnya. Aku penasaran dengan serbuk ini. Apa benar serbuk ini bisa menghilangkan masalahku? Aku mulai mencicipinya. Sedetik dua detik tak ada sesuatu yang terjadi padaku. Tapi lama-lama badanku terasa ringan dan pandanganku sedikit kabur. Aku merasa melayang……setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Semua bebanku selama ini terasa hilang.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,