So Aja

Baca online: cerpen, puisi, naskah drama, surat

0 Komentar 14/06/13 | @ 11.14

Ungu (1)

Ungu, aku pengen kamu ngerti kalau itu bukan aku. Begitu kulepas semua, begitu kupakai selembar melekat bau ranum tubuhku, itu bukan aku. Setelah 1 tahun menjadi pacarku baru pertama kali ini cinta (panggilan sayang buat pacarku) mengantarku ke salah satu café terkemuka di kota dingin ini. Kuletakkan tas berisi pakaian dan alat make up di sudut ruangan itu. Baju yang kupakai ini,….ah tapi tampaknya bukan baju,, lebih mirip kain mungil yang begitu kuat memelukku di bagian dada membuat setiap lekuk tubuh indahku nampak penuh seni. Entah seni apa namanya bila kumbang-kumbang liar yang melihat semua ini… baju mungil ini kupasangkan dengan celana pendek model sekarang yang tampak glamour dengan rumbai-rumbai pemanis di sekitarnya. Seperti biasa celana ini juga begitu kuat memeluk bagian pinggul sampai beberapa sentimeter ke pahaku.

Begitu mantap kuturuni anak tangga dan segera naik ke tengah kerumunan.

“It’s your party….my baby….”

“You are the star,…”

“Dunia ini milikmu, you are the real dancer…..”

“Kamu boleh minta apa saja asal kamu tetap jadi primadonaku…”

Semua kalimat itu tak henti-hentinya menghujaniku seperti surga dunia, tapi ungu tetap merasa kalau itu” the best damn thing”….huuuh….malam ini aku begitu all out. Kubuat seluruh pengunjung panas merasuk tiap pori-pori tubuh mereka yang bau alkohol, keringat, atau parfum bermerek mereka yang mulai luntur tersaput pekat mesum. Hari ini memang kurasa beda, aku benar-benar merasa memiliki segalanya, tubuhku yang sempurna, popularitas, dan uang. Semua mengelu-elukan aku.

“Hey, di mana cinta?” bisik ungu disekap gempita malam.

Seketika aku sadar bahwa cinta kubawa untuk melihatku malam ini. Beberapa menit saat naik panggung kulihat cinta masih berada di sudut kananku, tapi dimana ia sekarang? Segera saja kuhempas remang itu. Aku keluar dan mencari cintaku, seseorang yang walau bagaimanapun telah memberi setengah hatinya untuk menemaniku beberapa tahun ini. Asal kau tahu ungu, cowok ini adalah cowok terideal yang memang paling pantas menjadi bapak bagi anak-anakku kelak, dan hanya dialah yang akan mengerti bahwa sebenarnya ada malaikat mungil dalam diriku malam ini yang dibalut baju serba minimalis .

“Cinta, pulang yuk, aku udah selesai kok!” kataku setelah kutemukan cinta .

Aku duduk di sampingnya sambil terus melihat wajah cinta yang makin lama makin terlihat aneh. Malam ini memang dingin, tapi cinta terlihat aneh dengan baju tebal hitam itu, apalagi ia tak mau menatap mataku. Tapi tiba-tiba, uuuupsss….cinta memelukku penuh arti, penuh cinta, tapi menurutku ini pelukan yang terlalu dramatis. Walaupun aku merasa sangat hangat dalam dekapan pria ini, mengingat bajuku yang serba mini malam ini.

“Kamu memang terlalu ungu, tapi tak sepantasnya kabut menambah kelam warna unguku” kata cinta di tengah-tengah lapangan sepak bola yang memang tepat berada di depan café kota bunga ini.

Bisa kamu bayangkan ungu, betapa dalam pria ini mencintaiku. Tapi perlu kamu tahu juga betapa dalam pula aku mencintai diriku di atas stage. Aku memulainya tidak dengan mudah. Dengan kerja keras, melawan orang tuaku, membuang waktu sekolah, dan tak kupedulikan segala hal tentang cinta. Begitu banyak pengorbananku untuk mencapai ini semua. Sekuat apapun, sedalam apapun aku berusaha melepas salah satunya aku akan makin jauh terlempar. Aku tahu aku begitu menyayangi cinta, tapi aku tidak bisa membuang impianku begitu saja. Kuakhiri sayat malam ini dengan sebuah janji ungu, ya..sebuah janji yang memang harus terlupa pada saatnya.

Aku memang keras, kau tidak akan pernah tahu betapa batu memang akan hancur bila diberi air terus menerus, tapi aku tidak. Aku adalah aku yang selalu ditunggu oleh bias mimpi. Bunda dan Ayah sudah bilang kalau aku tak perlu menari malam ini di acara ulang tahun, karena hujan turun begitu lebatnya. Tapi ungu, sebenarnya aku sudah terikat kontrak untuk menari di café yang lebih besar dari yang kemarin, ini pasti akan menarik, ini akan membuatku lebih hebat dari yang kemarin. Aku juga harus profesional, banyak orang menantiku, aku adalah seorang primadona di kota ini. Seorang teman pria yang baru kukenal menjemputku bersama penari lainnya dan kami segera menuju café yang terletak di basement sebuah plaza terkemuka di kota ini. Mobil-mobil lalu lalang di sekitarku, hujan seperti menggertak isi dalam otakku, dan yang terparah pria di sampingku ini tak henti-hentinya merayuku seperti aku ini perempuan setengah akhlak. Ungu tak henti-hentinya memandangku dari sudut matanya yang angkuh, mungkin bukan karena janji yang harus terlupa, tapi karena janji yang sengaja kubuang saat ini.

B E R S A M B U N G

Label: ,