So Aja

Baca online: cerpen, puisi, naskah drama, surat

0 Komentar 11/06/13 | @ 14.03

Cerita Sebelumnya:


Bunga Terakhir (3)

Tiap hari sabtu sekolah Mala libur. Dan tiap hari sabtu itu di depan pintu rumah Mala selalu ada setangkai bunga mawar merah. Dan puisi atau kata-kata indah. Tanpa di bubuhi nama pengirimnya. Duh,, romantis banget ya. Romantis bukan” rokok makan gratis lho” tapi emang romantis banget cowok yang ngirim bunga ini.

“Non.. Udah siang nich.”

“Duh,, kamu ini gangguin orang tidur aja sich. Masih jam berapa ni.”

“Ini sudah jam sembilan Non. Oia,, Non ini ada bunga mawar buat Non Mala.”

“Dari siapa?”

“Nggak tau Non, tadi waktu saya buka pintu udah ada bunga mawar ini.”

Wangi bunga ini takkan pernah hilang meski tak berada pada pohonnya. Dan tetap terlihat anggun.

Yang mencintaimu…

“Ni orang nggak jelas, buang-buang duit aja beliin gue bunga ini. Tapi siapa ya yang ngirim bunga ini? Bodoh banget mikirin orang nggak jelas kayak gini.”

“Udah bunga keberapa ya ini. Duh,, nggak gentlemen banget sich ni orang Cuma ngirim bunga nggak di kasih nama, di taruh di depan pintu lagi.”

Tanpa menghiraukan bunga itu lagi, Mala langsung beranjak dari tempat tidurnya. Dengan langkah yang masih terhuyung-huyung dan males-malesan kayak orang mabuk, dia menuju kamar mandi. Ternyata dia masih ingat mandi juga. Nggak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi dan langsung ganti baju. Dia berniat hari ini dihabiskan untuk jalan-jalan seharian melepaskan penat yang selama ini membebani pikirannya. Kaos biru celana jeans selutut plus topi dan tas pinggang, nggak lupa dia selalu pake MP4-nya yang tergantung di lehernya.

Ramai banget mal-mal hari sabtu gini. Banyak orang yang lagi weekend mungkin ya, jadi di habiskan dengan belanja di mal-mal atau sekedar untuk refreshing, melepaskan kepenatan di kantor atau di rumah.

“Aduh!!! Bodoh banget sich lo, nggak liat ya ada orang.”

“Maaf Mbak? Lagi tergesa-gesa soalnya.”

‘Tapi liat-liat dong kalau jalan…”

Setelah puas Mala mengeluarkan kata-kata kasarnya, dia meneruskan jalannya. Dia pasang lagi headsetnya yang tadi sengaja dia lepas waktu memarahi habis-habisan orang yang nggak sengaja menabraknya.

“Maafin teman saya ya mas?”

“Mas temannya cewek itu?”

“Iya Mas, maafin teman saya ya?”

“Iya nggak papa, lagian saya juga salah nggak liat-liat ada orang di depan.”

Andra nggak sengaja liat Mala yang sedang berjalan sendirian di mal. Andra juga lagi mau belanja untuk keperluan di panti. Ya di panti, memang Andra sejak kecil ditinggal oleh kedua orang tuanya dan diasuh di panti itu.

“Itu teman Kakak ya?” Tanya Vera yang juga salah satu anak yang tinggal di panti.

“Iya itu Mala teman sekelas Kakak di sekolah.”

“Kok jahat banget sich Kak?”

“Dia nggak jahat kok, mungkin Kak Mala lagi ada masalah, jadinya dia mudah marah. Jangan menilai orang dari luarnya aja Ver, kamu kan juga belum kenal sama Kak Mala. Dia sebenarnya nggak jahat kok, dia anaknya baik.”

Andra terus saja mengikuti kemana arah Mala berjalan sampai dia lupa tujuan utama dia pergi ke mal. Andra takut terjadi apa-apa dengan Mala. Diam-diam emang Andra dari dulu suka sama Mala. Meskipun sifat Mala sombong dan cuek tapi Andra yakin kalau sebenarnya Mala itu anaknya baik.

Tiba-tiba Mala pingsan dan terjatuh ke lantai. Kontan saja Andra lari menghampiri Mala. Semua perhatian orang tertuju pada Mala yang sedang tak sadarkan diri. Lansung saja tanpa banyak pikir Andra membawa Mala ke rumah sakit. Setelah beberapa lama kemudian dokter keluar dari ruang tempat Mala diperiksa. Andra langsung menghampiri dokter yang memeriksa Mala dengan wajah penuh Tanya.

“Teman saya nggak papa kan, Dok? Dia baik-baik saja kan?”

“Tenang-tenang, adik ini siapanya cewek ini?”

“Saya teman sekolahnya Dok. Apa ada yang serius Dok dengan kondisi teman saya?”

“Kamu sudah menghubungi pihak keluarga anak ini?”

“Sudah Dok, orang tuanya masih di jalan menuju ke sini.”

“Dokter, saya mamanya Mala. Anak saya nggak papa kan Dok, dia baik-baik aja kan Dok?”

“Mari kita bicarakan saja semua ini di ruangan saya.”

Andra tidak diperbolehkan ikut masuk ke dalam ruangan itu. Dia Cuma bisa mendengarkan pembicaraan mama Mala dan dokter dari balik pintu. Tapi suara dokter itu jelas terdengar dari balik pintu itu.

“Begini Bu. Anak anda terkena kanker otak dan sudah stadium 4. Sebentar lagi kita akan mengetahui hasil laboratorium untuk memastikannya.”

“Apa Dok, anak saya terkena kanke otak?”

“Ini masih dugaan sementara Bu. Kita tunggu hasil pemeriksaannya dulu, baru kita akan tau sebenarnya penyakit anak anda.”

Andra yang mendengar kata-kata dokter itu tanpa sadar telah meneteskan air mata. Dia tak sanggup lagi melihat Mala yang masih tak sadarkan diri.

Tak berapa lama seorang suster membawa hasil laboratorium dan masuk ke ruang dokter tadi. Andra mendengarkan percakapan di ruang dokter itu lagi untuk mengetahui hasil laboratorium. Dari balik pintu sayup-sayup dokter telah mengatakan kalau hidup Mala takkan lama lagi, diperkirakan hanya tinggal tujuh bulan lagi.

Setelah beberapa lama, akhirnya Mala sadar dari pingsannya. Di sampingnya mamanya tak sanggup menahan isak tangis. Mala jadi bingung melihat mamanya yang terus saja menangis dan wajah papanya yang penuh duka.

“Mala nggak papa kan, Pa? Mala nggak sakit kan?”

Mamanya terus saja menangis. Tak ada yang menjawab pertanyaan Mala. Andra juga tak sanggup menahan air matanya yang sedari tadi tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya.

“Pa, Ma, Mala nggak papa kan? Jawab dong kenapa semua hanya diam dan terus saja menangis, kayak Mala mau mati aja ditangisin terus.”

“Kamu nggak papa, Nak.”

“Nggak papa kok mama dan papa nangis terus sich. Jujur aja dech sama Mala, emang Mala kenapa?”

“Sebenarnya kamu mengidap kanker otak dan dokter juga bilang kalau umur kamu tinggal tujuh bulan lagi. Tapi Papa nggak akan tinggal diam, Papa akan mencarikan rumah sakit terbaik buat kamu, supaya kamu bisa sembuh dan terus bisa melanjutkan hidup kamu.”

“Nggak usah Pa. Mala udah pasrah aja sama keadaan Mala sekarang ini.”

* * *

Label: ,