So Aja

Baca online: cerpen, puisi, naskah drama, surat

0 Komentar 15/06/13 | @ 10.54

Cerita sebelumnya:


Milah (3)

Aku masih bingung ada apa sebenarnya yang terjadi. Aku langsung saja turun setelah menonaktifkan dulu mesin motorku dan berlari sambil membawa kursi roda menuju rumah Milah. Aku berdesakan, menerobos warga yang berkumpul dan memasuki halaman rumah Milah. Aku kaget, terperangah, bingung, bimbang, sedih bercampur. Tak kusangka dan kuduga, aku melihat Milah mengucurkan darah dari kepala, hidung dan mulutnya. Banyak warga yang menangis melihat Milah yang sedang dipangku oleh ibunya dan dikerumuni para ibu-ibu warga desa Ngembal. Aku terdiam, bingung, sedih, dan kaget bercampur lagi jadi satu. Kursi roda yang kujanjikan untuknya terlepas dari genggamanku dan jatuh tepat dibawah Milah yang dipangku oleh ibunya dengan berpeluh pilu yang mendalam sebagai seorang ibu.

“Milah telah tiada, dia meninggal karena terjatuh dari kursi diteras depan rumahnya, setelah itu dia bergulung-gulung, menuruni anak tangga dibawah teras, kemudian tersungkur, dan mengeluarkan banyak darah dari kepala, hidung, dan mulutnya. Setelah itu dia kejang-kejang, lalu lemas tak bergerak” seru salah satu warga yang melihat kejadian itu. Aku hanya tersentak begitu cepatkah Milah tiada. Aku berjalan mundur dan dipegang oleh penjual warung kopi yang tadi. Penjual tersebut berkata,” Milah telah tiada”.

Dengan bercampur sedih aku bertanya,” Kenapa dan apa yang telah terjadi sebelumnya, sehingga Milah………..” tak kuasa aku menahan sedihku. Penjual tersebut menjawab dengan meneteskan airmatanya,” Milah terjatuh dari kursi, kemudian menuruni anak tangga dengan bergulig-guling”.

Aku dan banyak warga lainnya sama menangisnya karena sedih melihat anak sekecil Milah yang tiba-tiba tiada. Aku juga melihat Risma, teman Milah yang baik itu menangisi kepergian Milah dengan berderai-derai air mata.

Aku berjalan sempoyongan meninggalkan kerumunan warga didepan rumah Milah. Aku terdiam dan sadar, ternyata Milah meninggalkanku hanya selang waktu 2 jam saja. Seketika itu pula aku berlari dan bertanya pada Tuhan,” Apa salah Milah, Tuhan? Kenapa Engkau ambil dia sebelum ia mendapatkan banyak kawan bermain? Kenapa Tuhan, kenapa?” protesku terhadap Tuhan dalam hati.

Tidak ada jawaban,

aku hanya diam dan merasakan

bahwa:

rasa sayangku pada Milah, sama seperti rasa sayang Ibunya dan semua warga kepadanya. Kecuali teman sepermainannya.

Kamar, Juli 2007

* * * * *
T A M A T

By: Ahmad Sayuthy

Label: ,

0 Komentar | @ 10.52

Cerita sebelumnya:


Milah (2)

Sementara Jono , Risma, dan Hadi sedang bertengkar. Teman-temannya yang sibuk dengan mainannya sendiri-sendiri terdiam dan memperhatikan ke arah mereka bertiga dengan serius.

Risma mulai menangis dan berkata,” Heh Jono, kamu sama saja dengan Hadi. Dasar anak laki-laki, maunya menang sendiri! Kalian berdua sombong! Aku tidak mau main dengan kalian! Aku benci kalian! Huh!” sahut Risma dengan keras dan kemudian meninggalkan mereka.

Aku hanya kaget atas suara tadi, begitu angkuhnya semua teman Milah termasuk Jono dan Hadi yang tega membiarkan Milah sendirian dan tidak diajak bermain, serta masih saja mengolok-olok Milah dengan kata-kata yang tak seharusnya keluar dari mulut anak-anak usia 7-8 tahunan. Kecuali Risma yang bertentangan dengan Jono dan Hadi.

Risma terlihat berlari pulang kerumahnya sambil menangis terisak-isak karena dimarahi dan ditentang oleh Jono dan Hadi. Seketika itu pula Jono, Hadi dan kawan-kawannya yang lain bermain lagi tanpa menghiraukan Milah dan Risma.

Entah Milah dan ibunya mendengar perkataan itu atau tidak. Yang aku tahu Ibunya sedang menenangkan Milah supaya tidak menangis lagi. Aku yang tidak tega atas hal yang terjadi padanya, bergegas menuju rumahnya. Di sana ia masih terisak-isak sambil tersenyum simpul. Meskipun sebenarnya tidak terima atas perlakuan teman-temannya. Tak disangka Milah adalah gadis kecil yang sangat manis, lugu, dan periang, walaupun cacat. Tak menunggu lebih lama lagi, segera ku angkat dia dan ku janjikan padanya bahwa ia akan punya banyak teman dan aku berkata pada Milah dan ibunya bahwa aku akan membelikan sebuah kursi roda untuknya agar dia bisa berjalan dan bermain sesuka hatinya meski tidak bermain dengan teman-temannya.

Tak lama kemudian, setelah berjanji pada Milah dan ibunya, aku segera menuju warung kopi untuk membayar wedang kopiku dan sedikit gorengan. Setelah itu, aku bergegas menaiki sepeda motorku dan menancapkan gas kemudian hilang dengan sekejap dibalik pagar tanaman yang tumbuh subur dipinggiran jalan desa.

Siang hari di bawah terik sinar matahari yang memaksa keringatku untuk keluar dan membahasi kulit tubuhku. Tapi, aku tak menghiraukannya. Dalam perjalanan yang sangat macet di jalan raya menuju rumah sakit, aku berpikir tentang Milah yang diperlakukan tidak selayaknya oleh teman-temannya dengan olok-olokan yang memerahkan telinga.” Kenapa bisa begitu tega teman-temannya membiarkan Milah sendirian tanpa diajak bermain sedikitpun” keluhku dalam hati. Dalam waktu yang sama aku berusaha secepatnya menuju rumah sakit untuk membelikan sebuah kursi roda untuk Milah. Meskipun jalan yang aku lewati sangatlah macet.

Sementara jalan raya yang sesak dengan kemacetannya, aku yang lelah menunggu. Langsung saja keluar dari jalan yang seharusnya kulewati, aku masuk dan melewati jalan-jalan kampung, yang terpenting dalam pikiranku adalah sampai di rumah sakit dengan cepat.

Setelah melewati jalanan kampong yang berdebu dan berbelok-belok akhirnya sam pai juga aku di rumah sakit. Sesampainya di sana, aku memarkir sepedaku dekat pos satpam dan berkata pada satpam rumah sakit untuk menjagakan sepeda motorku barang sebentar. Kemudian aku turun dari motorku yang sudah tak berdengung lagi, aku berlari dibelokan-belokan kamar rumah sakit menuju loket administrasi. Di depan loket aku disambut dengan pertanyaan hangat dari suster penjaga loket administrasi, dia menyapa,” Selamat siang Pak? Ada yang bisa saya Bantu?” sapanya dengan hangat.

Aku berkata” Sus, saya mau beli kursi roda untuk anak kecil satu buah” dengan kalimat yang tergesa-gesa karena ingat akan penderitaan Milah dibenakku.” Sebentar ya Pak, barangnya masih diambilkan digudang” jawabnya.

Setelah kursi roda yang aku pesan datang, aku bertanya,” Harganya berapa Sus?”. Suster itupun menjawab,” Harganya 150.000 rupiah Pak”.

Tak kulihat lagi berapa uang yang aku keluarkan untuk membayarnya, langsung saja kubayar. Sambil tergesa-gesa dan keberatan aku berkata pada suster itu.” Terima kasih Suster. Ini uangnya” sahutku.

Tak ku ambil kembali uang kembaliannya, kembali aku berlari sambil sedikit keberatan melewati belokan-belokan kamar, dan segera menuju pos satpam. Belum sempat pak satpam berkata, aku langsung saja berterima kasih karena telah menjagakan sepeda motorku barang sebentar. Dengan cepat aku menyalakan sepeda motorku dan menancapkan gas untuk kembali ke rumah Milah, dan membawakan sebuah kursi roda yang telah aku janjikan kepada Milah dan juga ibunya.

Selang waktu 2 jam aku kembali dari rumah sakit dan melewati jalan-jalan berdebu kemudian bertemu dengan kemacetan lagi. Tepatnya pukul 13.45 WIB. Terdengar suara pemberitahuan duka dari speaker di surau desa tempat Milah berada. Tak kudengarkan lagi suara itu, terus saja aku menuju rumah Milah sambil membawa kursi roda yang aku beli untuknya dirumah sakit 1 jam yang lalu. Aku heran kenapa, dan ada apa dirumah Milah?. Banyak sekali orang berkumpul didepannya.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,

0 Komentar | @ 10.44

Milah (1)

Siang hari sekitar pukul 09.45 WIB disebuah desa dipinggiran kota, desa Serayu namanya. Terlihat anak perempuan dengan gigi-gigi kecil yang tersusun rapi, bibir tersenyum menandakan betapa manisnya dia. Matanya yang coklat melebar, hidungnya yang mancung bergerak sedikit, menandakan bahwa dia sedang ingin bermain. Dia duduk diteras rumahnya yang berada sekitar satu meter setengah di atas permukaan tanah. Milah namanya.

Dia memanggil,

“Hei, teman-teman, kemarilah! Aku ingin bermain…..” panggil Milah. Tapi tak dihiraukan oleh kawannya.

Sekali lagi dia memanggil,

“Hei, teman-teman, kemarilah! Aku ikut main ya?” panggil Milah. Tak dihiraukan juga oleh teman-temannya.

Sekali lagi Milah memanggil,

“Hei, teman-teman, kemarilah! Aku ingin bermain dengan kalian. Aku ikut main ya?” panggil Milah. Tapi, tetap saja tidak ada yang menghiraukannya.

Milah mulai memicingkan matanya, pertanda dia mulai enggan bermain. Tak lama kemudian suara mengerang mulai terdengar samara-samar dari arah Milah, Milah mulai menitikkan air matanya. Kemudian melebarkan bibir dan hidungnya, setelah itu menggosok-gosokkan kedua tangannya dikedua belah matanya, Milah menangis.

Aku yang duduk di warung kopi yang letaknya berhadapan langsung dengan rumah Milah hanya melihat sambil tersenyum melihat anak sekecil Milah menangis karena tak diajak bermain teman-temannya. Selang waktu yang sama aku mendengar penjual warung kopi berkata,” Kasihan Milah setiap hari tidak pernah diajak bermain oleh teman-temannya. Sering dia menangis seperti itu. Tetapi tidak pernah dihiraukan oleh teman-temannya. Kecuali Risma yang terkadang bermain dengan Milah”

Aku bertanya pada penjual warung kopi tersebut.” Memangnya Milah kenapa Bu? Kok sampai tidak diajak bermain oleh teman-temannya?”.

Penjual tersebut menjawab,” Milah itu anak cacat, dia tidak bisa berjalan dengan normal seperti kebanyakan anak pada umumnya. Mungkin itu yang membuat teman-temannya enggan bermain bersamanya”.

“Apa teman-temannya tidak punya perhatian terhadap Milah Bu? Sedikitpun?” tanyaku lagi.

“Ya mau gimana lagi Mas, Milah anaknya cacat, teman-temannya malu kali bermain dengan Milah” jawab penjualnya.

“Seharusnya kan tidak seperti itu perlakuan teman-temannya terhadap Milah Bu? Kasihan Milah kalau terus-terusan seperti itu” sahutku lagi.

“Iya Mas, kasihan Milah, saya saja sebagai orang tua kasihan melihat Milah diperlakukan seperti itu oleh teman-temannya” sahut penjual tersebut menanggapi peryataanku.

Aku terdiam dan………………

“Kasihan Milah, anak sekecil Milah diperlakukan seperti itu oleh teman-temannya” sahutku dalam hati.

Beberapa menit setelah Milah menangis, ibunya dating dan mengendongnya dengan bijaksana. Dengan penuh kasih sayang ibunya berkata,” Sudahlah anakku, berhenti ya, jangan menangis lagi!. Milah kan anak baik, jadi Milah ndak boleh menangis. Sudah ya? Senyum ya?”.

Tapi, suara Milah semakin mengeras dan tak lama setelah itu tak terdengar lagi. Sesekali Milah berkata,” Aku ingin bermain bu…” kemudian menangis lagi.

Dalam waktu yang sama.

Aku mendengar, sayup-sayup suara teman-teman Milah terdengar dari kejauhan.

Teman-temannya memanggilnya Jono. Jono berkata,” Ah, biar saja Milah menangis, anaknya cacat ini, mana bisa main sama kita-kita”.

Mendengar Jono berkata seperti itu, Risma menyahutinya.” Kamu kok begitu sih Jon, tidak baik berkata seperti itu. Milah kan anak yang baik Jon, apa dia salah kalau ingin bermain dengan kita?” sahutnya.

Sementara Jono dan Risma salaing beradu. Teman-teman yang lain sibuk bermain sendiri-sendiri. Selang beberapa detik kemudian seorang bocah, Hadi panggilannya menyahuti perkataan Risma.

“Heh Risma, kenapa kamu membela Milah! Dia kan cacat mana bisa main sama kita! Huh, dasar anak nggak tahu malu! Ayo kita main lagi.” sahut Hadi.

Jono kembali menyahuti Hadi,” Bener tuh Had, apa yang kamu katakan barusan. Milah kan anaknya cacat, mana bisa dia bermain sama kita. Memang dasar Risma aja yang ngebela-belain Milah. Sudah kamu main sana sama Milah! Dasar cewek!”

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,