So Aja

Baca online: cerpen, puisi, naskah drama, surat

0 Komentar 10/06/13 | @ 22.43

Cerita sebelumnya:

Cerpen: Katakan Pada Hatiku (4)

Hari itu tanggal 19 juni, ia menjemputku sepulang kuliah, kemudian ia mengajakku kesuatu tempat yang indah, yang sebelumnya aku belum pernah melihatnya. Sungguh pemandangan pantai yang indah, tanpa ku duga doni mengatakan kembali perasaannya padaku. Aku pun tidak bisa berkata apa-apa dan aku hanya bisa mengatakan untuk yang kedua kalinya bahwa aku sudah punya kekasih. Namun ia tidak peduli, ia rela menjadi yang kedua asalkan aku mau menerima cintanya. Aku semakin bingung karena aku merasa kalau aku pun suka padanya. Lalu bagaimana dengan iwan? Aku tidak tau bagaimana kabarnya sekarang, entah apa yang sedang terjadi padanya.

Semakin lama kabarnya pun semakin jarang ku terima. Kulihat wajah doni yang semakin terlihat cemas seakan menanti sebuah jawaban yang besar dari mulutku. Namun ia tak berani menatapku, pandangannya hanya tertuju pada ombak yang biru, mungkin juga pandangannya kosong karena memikirkan jawaban dariku.lama kami terdiam, hingga yang terdengar hanya ombak yang saling berkejaran.

Tanpa kusadari keadaanku kini jauh lebih baik dari sebelumnya. Penyakitku sekarang tak pernah kambuh lagi, aku merasa diriku telah kembali pada ragaku. Dan ini semua karena doni, hal ini membuatku semakin berat padanya.

Kurasa ia tulus, pikirku.?

Kenapa kau memilihku sementara kau tau aku sudah tidak bisa untuk memilih? Kataku.

Karena hatiku berkata bahwa kamulah yang pantas untuk kupilih, jawabnya.

Hatiku semakin kacau, aku seperti berada jauh diantara dua pilihan yang sama sekali aku tidak bisa memilihnya.

Seandainya aku lebih dulu mengenalmu dari orang lain, pastilah aku menjadi lelaki yang amat beruntung. Namun itu tak pernah kusesali, karena tuhan telah amat baik padaku hingga ia telah mempertemukan aku denganmu walaupun aku sadar, aku tidak bisa memilikimu, papar doni.

Kata-kata doni seperti menyumbat aliran darahku, ia sama sekali tak menyalahkan garisan takdir ini. Namun sebaliknya ia jujur untuk bersyukur, karena Tuhan telah mempertemukan kita dalam keadaan yng paling buruk sekalipun bagi dirinya. Karena yang terpenting baginya adalah kesempatan pernah mengenalku. Lalu apakah aku salah jika kuberikan sepenggal hati ini untuknya, seseorang yang sudi mencintaiku walaupun ia tau aku tidak bisa untuk memilihnya??? Pikiranku pun selalu menggodaku.

Tuhan… katakanlah pada hatiku tentang angin yang berbisik diluar sana, agar kekasihku pun tak pernah ragu padaku. Dan sampaikanlah pada hatinya yang lain bahwa sesungguhnya cintanya padaku tidaklah sia-sia.

Tamat.

Label: ,